REKOMENDASI SAHAM

Saham Emiten Murah Berkinerja Keuangan Baik Bisa Jadi Pilihan

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 04/03/2019 08:11 WIB
Saham Emiten Murah Berkinerja Keuangan Baik Bisa Jadi Pilihan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Emiten yang merilis laporan keuangan untuk periode tahunan 2018 semakin banyak pada Maret ini. Sejumlah perusahaan membukukan kinerja positif.

Tetapi kinerja positif tersebut tak sejalan dengan pergerakan saham mereka. Logikanya, harga saham suatu emiten akan melaju positif jika keuangan perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih.

Bahkan, tak jarang harga sahamnya menjadi mahal atau overvalued. Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial mengatakan kondisi tersebut justru memberi peluang. Investor bisa melirik saham emiten yang memiliki kinerja keuangan positif sepanjang 2018, namun harga sahamnya masih di bawah harga pasar atau murah (undervalued).


Ia menyebut PT Astra International Tbk (ASII) merupakan salah satu contoh saham yang masuk kriteria tersebut. Umumnya, pelaku pasar bisa melihat wajar atau tidaknya harga suatu saham emiten dari price earning ratio (PER) dan price book value (PBV).


"Saham Astra International ini masih undervalued, terlihat dengan PBV yang hanya dua kali, sementara laporan keuangan pada 2018 luar biasa bagus di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif stagnan," papar Janson kepada CNNIndonesia.com, Senin (4/3).

Mengutip laporan keuangan Astra International, pendapatan perusahaan naik 15,83 persen pada 2018 menjadi Rp239,2 triliun dari sebelumnya Rp206,5 triliun. Tak heran, laba bersih Astra International ikut terkerek 15,02 persen dari Rp18,84 triliun menjadi Rp21,67 trilun.

Sayang, di tengah kinerja keuangan yang bagus, harga saham perusahaan pada pekan lalu justru hanya mampu nangkring ke level Rp7.225 per saham. Pergerakan saham tersebut justru melorot 5,24 persen dibandingkan dengan penutupan dua pekan sebelumnya yang masih bisa bertengger di level Rp7.625 per saham.

Padahal, laporan keuangan Astra International dipublikasikan pada 27 Februari 2019 kemarin. Janson mengatakan penurunan kinerja saham tersebut kemungkinan terjadi karena dua faktor.


Pertama, laporan keuangan yang memang belum diapresiasi oleh investor. Kedua, investor belum mengapresiasi diversifikasi bisnis yang dimiliki oleh Astra International.

Pasalnya, risiko usaha bisa dimitigasi jika suatu perusahaan memiliki beberapa lini usaha.

"Lini usaha yang sudah terdiversifikasi ini mulai dari komoditas sawit, batu bara, konstruksi, dan perbankan," terang Janson.

Bila dirinci, anak usaha Astra International yang berhubungan dengan komoditas sawit adalah PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), lalu PT United Tractors Tbk (UNTR) yang bergerak di sektor kontraktor pertambangan, dan PT Bank Permata Tbk (BNLI) merupakan satu-satunya bank di bawah asuhan Astra Grup.


Dalam jangka pendek dan menengah, Janson menargetkan harga saham Astra International menyentuh level Rp9.000 per saham. Hal itu mengartikan harga saham perusahaan berpotensi tumbuh signifikan sampai 24,56 persen.

Selain Astra, Janson juga merekomendasikan saham United Tractors. Nasibnya sama dengan sang induk, di mana harga sahamnya melemah sepanjang pekan lalu di tengah kinerja keuangan yang positif.

Harga saham United Tractors merosot 5,18 persen dari Rp27.950 per saham ke level Rp26.500 per saham. Sementara, pendapatan perusahaan pada 2018 meningkat 31,09 persen dari Rp64,55 triliun menjadi Rp84,62 triliun.

Laba bersih perusahaan pun terangkat 50,28 persen menjadi Rp11,12 triliun dari Rp7,4 triliun. "Laporan keuangan 2018 bagus tapi saham masih undervalued dengan PBV yang hanya 1,7 kali," jelas Janson.


Ia meramalkan dalam jangka pendek dan menengah harga saham United Tractors bisa ke level Rp35 ribu per saham. Bila dibandingkan dengan penutupan akhir pekan lalu, maka ada peluang kenaikan 32,07 persen.

Sependapat, Analis Panin Sekuritas William Hartanto menyatakan pelaku pasar bisa mengonsumsi saham-saham emiten yang memiliki fundamental cukup baik yang terlihat dari laporan keuangan perusahaan. Ia menyarankan pelaku pasar mencermati saham PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

"Pertumbuhan keuangan dari Wijaya Karya Beton dan BCA akan menjadi penggerak harga sahamnya," tutur William.

Wijaya Karya Beton meraup keuntungan bersih sebesar Rp486,35 miliar sepanjang tahun lalu, naik 44,26 persen dari posisi 2017 yang hanya Rp337,12 miliar. Realisasi itu ditopang oleh pertumbuhan pendapatan perusahaan sebesar 29,29 persen dari Rp5,36 triliun menjadi Rp6,93 triliun.


Selanjutnya, laba bersih BCA juga meningkat meski tak sebesar Wijaya Karya Beton. BCA membukukan kenaikan laba bersih sebesar 10,9 persen menjadi Rp25,85 triliun. Penopang utamanya berasal dari pendapatan operasional yang naik 17 persen menjadi Rp17,7 triliun.

"Secara teknikal untuk saham-saham itu juga memasuki tren kenaikan," kata William.

Kebetulan, saham Wijaya Karya Beton dan BCA kompak menutup pekan lalu di zona hijau. Rinciannya, saham Wijaya Karya Beton menguat 0,96 persen ke level Rp525 per saham dan BCA 0,45 persen ke level Rp27.700 per saham. (agt)