Insentif Pajak Tak Ampuh Angkat Laju Mobil Ramah Lingkungan

CNN Indonesia | Selasa, 12/03/2019 18:13 WIB
Insentif Pajak Tak Ampuh Angkat Laju Mobil Ramah Lingkungan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pengamat perpajakan menilai upaya pemerintah mendorong pengembangan industri dan konsumsi kendaraan beremisi karbon rendah tak cukup hanya dengan insentif keringanan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM).

"Dalam jangka pendek (insentif PPnBM) bisa digunakan, tetapi ke depan harus menyusun cara yang lebih komprehensif," ujar Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com, Selasa (12/3).

Menurut Yustinus, secara nomenklatur, pengenaan PPnBM berdasarkan harga bukan emisi. Padahal, ada mobil mewah yang menghasilkan emisi karbon rendah. Maka itu, di beberapa negara ada pengenaan pajak karbon.


Instrumen pengenaan cukai sebenarnya lebih cocok untuk mengurangi dampak negatif dari emisi. Dalam hal ini, tarif cukai akan lebih tinggi bagi kendaraan yang menghasilkan emisi karbon tinggi.


"Hal yang mau diatasi itu kan dampak negatif, kalau dampak negatif cukai itu yang tepat," ujarnya.

Kendati demikian, Yustinus memahami pemerintah tidak bisa mengubah undang-undang pajak dan cukai dalam waktu singkat. Pasalnya, proses legislasi akan memakan waktu sementara pemerintah ingin segera memberikan insentif.

"PPnBM menjadi instumen yang sekarang ada sebelum kita bisa mengubah UU," ujarnya.

Untuk itu, Yustinus mengapresiasi perubahan skema perhitungan PPnBM yang diusulkan Kemenkeu. Dalam hal ini, kendaraan yang menghasilkan emisi karbon rendah, seperti mobil listrik, akan mendapatkan tarif PPnBM yang rendah.


Dari sisi penerimaan negara, menurut Yustinus keringanan PPnBM kendaraan beremisi tinggi tidak akan berdampak besar. Namun, kebijakan tersebut akan berdampak besar pada lingkungan.

Secara terpisah, pengamat DDTC Bawono Kristiaji menilai skema PPnBM kendaraan yang baru telah memiliki semangat untuk mengendalikan konsumsi kendaraan yang tidak ramah lingkungan.

"Selama ini, dengan skema PPnBM yang berbasis pada penggolongan berdasarkan non-emisi (misal cc) cenderung memberikan dampak yang kurang baik terhadap jumlah emisi dan eksternalitas bagi lingkungan sebagai akibat kecenderungan konsumsi pada kendaraan yang kurang ramah lingkungan, ujar Bawono.

Dengan adanya skema baru tersebut, lanjut dia, maka kendaraan yang berbasis listrik maupun hybrid yang ramah lingkungan akan relatif lebih diminati dan terjangkau.


Senada dengan Yustinus, Bawono lebih menyetujui jika pungutan atas kendaraan bermotor masuk dalam skema cukai di mana yang memberikan dampak negatif bagi lingkungan akan dikenakan pungutan lebih besar.

"Pengenaan cukai ini juga sudah diterapkan di banyak negara," ujarnya.

[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)