Laba Industri Asuransi Jiwa Rontok 55,49 Persen per Januari

CNN Indonesia | Jumat, 15/03/2019 17:24 WIB
Laba Industri Asuransi Jiwa Rontok 55,49 Persen per Januari Ilustrasi logo AAJI. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri asuransi jiwa gigit jari. Perolehan laba-nya hingga Januari 2019 rontok 55,49 persen menjadi Rp240,89 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni Rp541,23 miliar.

Statistik Asuransi yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat perolehan laba tersebut turun karena pendapatan preminya melempem 16,08 persen. Jumlah premi neto yang diraup pelaku usaha hanya Rp13,62 triliun atau turun dari tahun sebelumnya, yaitu Rp16,23 triliun.

Pun demikian, kondisi ini tidak lebih buruk dari tahun sebelumnya, di mana asuransi jiwa menanggung beban kerugian Rp2,17 triliun. Sedangkan pendapatan preminya mandek 1,21 persen dari Rp178,43 triliun menjadi Rp180,6 triliun.


Terlebih, hasil investasinya pun merosot 86,13 persen menjadi Rp6,62 triliun pada 2018 lalu dari sebelumnya yang menyentuh Rp47,75 triliun.

Kinerja keuangan yang tak mengilap ini juga dialami PT AIA Financial (AIA). Mengutip laporan keuangan perusahaan un-audited per 2018, hasil investasinya tercatat minus Rp25,14 miliar.

Beruntung jumlah pendapatan premi neto perusahaan masih berhasil tumbuh dari Rp9,87 triliun menjadi Rp11,94 triliun. Selain itu, beban perusahaan juga turun menjadi Rp7,05 triliun dari Rp11,57 triliun. Dengan demikian, perusahaan masih mampu membukukan laba sebesar Rp1,87 triliun.


Direktur Utama AIA Financial Ben Ng mengaku kinerja positif yang ditorehkan perusahaan di sepanjang tahun lalu. "AIA belum keluar rilisnya. Tapi laba kami tidak terpengaruh, stabil dan baik. Ini karena kami fokus dengan produk proteksi, jadi tidak sepenuhnya di produk investasi," papar Ben di Jakarta, Jumat (15/3).

Sayang, ia juga tak berkomentar ketika ditanya mengenai hasil investasinya yang minus. Namun, dia memastikan bahwa perusahaan tak bergantung dengan hasil investasi, melainkan pada produk asuransi proteksinya.

"Kami ada produk proteksi yang bayar 10 tahun atau 20 tahun untuk proteksi penyakit kritis, itu bisa sampai usia 99 tahun," terang Ben.


Walaupun begitu, dia tetap memiliki strategi untuk mengatasi kinerja investasi, yakni dengan mengadopsi dollar cost averaging jangka panjang. Ben menjelaskan jika mata uang dolar sedang turun, nasabah disarankan untuk membeli dalam jumlah banyak. Namun, jika sedang naik diimbau hanya melakukan sedikit transaksi.

"Produk-produk kami jangka panjang, jadi bukan yang sifatnya single premium. Dengan investasi jangka panjang ini hasilnya nanti lebih baik," terang dia.

Sementara itu, Asosiasi Asuransi Jiwa Bersama (AAJI) mencatat pendapatan premi bruto turun 5 persen, yakni dari Rp195,72 triliun pada 2017 menjadi Rp185,88 triliun pada 2018. Lalu, hasil investasi melorot 84,5 persen menjadi Rp7,83 triliun dari Rp50,45 triliun.


Ketua Bersama AAJI Maryoso Sumaryono mengatakan penurunan premi terjadi karena minat masyarakat untuk membeli produk asuransi tak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Hal ini lantaran pengetahuan masyarakat terhadap produk asuransi dinilai masih kurang.

"Literasi keuangan masih harus dilakukan, ini juga perlu dilakukan bersama dengan OJK agar kepercayaan masyarakat tinggi terhadap industri asuransi jiwa," papar Maryoso.

Kemudian, penurunan hasil investasi terjadi karena kondisi pasar yang melemah akibat isu perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang tak kunjung selesai. Masalahnya, banyak investasi yang ditempatkan di portofolio saham, baik langsung maupun melalui reksa dana.

[Gambas:Video CNN]


(aud/bir)