Investor Ragu-ragu, Harga Minyak Merosot

CNN Indonesia | Jumat, 22/03/2019 07:53 WIB
Investor Ragu-ragu, Harga Minyak Merosot Ilustrasi. (REUTERS/Edgar Su).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak merosot hampir 1 persen pada perdagangan Kamis (21/3), waktu Amerika Serikat (AS). Namun, level harga masih mendekati level tertinggi 2019 karena ditopang oleh mengetatnya stok global, pemangkasan produksi Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), dan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

Dilansir dari Reuters, Jumat (22/3), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$0,64 atau 0,9 persen menjadi US$67,86 per barel. Pelemahan juga dialami oleh harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,25 menjadi US$59,98 per barel.

Selama sesi perdagangan, WTI sempat menyentuh level US$60,33, tertinggi sejak 12 November 2018. "Pasar mulai sedikit ragu-ragu untuk naik pada tingkat ini," ujar Phil Flynn, Analis Price Futures Group.

Menurut Flynn, tanpa pemberitaan, pasar akan kembali mundur. Karenanya, data jumlah rig minyak di AS pekan ini menjadi signifikan sebagai indikator produksi ke depan.


Pekan lalu, perusahaan layanan di sektor energi Baker Hughes mencatat perusahaan energi AS memangkas jumlah rig yang beroperasi selama empat pekan berturut-turut.
Tak hanya itu, aktivitas pengeboran juga melambat ke level terendahnya untuk hampir setahun.

Kendati demikian, tensi perdagangan global masih mengkhawatirkan. "Kenapa harga minyak tidak reli hingga menyentuh atap? Kami memperkirakan penyebabnya berada pada pembahasan perdagangan AS-China," terang Analis PVM Tamas Varga.

Pasar mendapat sentimen yang mendorong harga dari data ketenagakerjaan AS. Jumlah warga AS yang melakukan pendaftaran tunjangan pengangguran turun lebih dari yang diperkirakan pekan lalu. Hal itu menunjukkan masih kuatnya kondisi ketenagakerjaan, meski laju pertumbuhannya telah melambat setelah kenaikan yang kuat tahun lalu.


Stok Menipis

Harga minyak mentah telah mendapatkan dorongan hampir sepertiga sejak awal tahun oleh pemangkasan produksi OPEC dan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela.

Penurunan produksi berimbas pada mengetatnya persediaan global. Lembaga konsultan JBC Energy memperkirakan stok telah menurun sekitar 40 juta barel sejak pertengahan Januari 2019 lalu.

Kondisi tersebut diikuti oleh penurunan sebesar 10 juta barel pada stok minyak mentah AS pekan lalu yang merupakan penurunan terbesar sejak Juli 2018. Badan Administrasi dan Informasi Energi AS (EIA) menyatakan menipisnya stok terjadi akibat kuatnya ekspor dan permintaan kilang.


Sanksi AS juga disebut-sebut mengganggu pasokan. "Ekspor Venezuela ke AS mengering setelah sanksi diberlakukan kepada mereka (Venezuela) oleh pemerintah AS pada awal tahun ini," tulis Bank ANZ.

Pengiriman minyak Iran juga anjlok. Pemerintah AS ingin memangkas ekspor minyak mentah Iran sekitar 20 persen menjadi di bawah 1 juta barel per hari (bph) sejak Mei 2018. Hal itu dilakukan dengan menekan negara pengimpor untuk mengurangi porsi pembelian demi menghindari sanksi dari AS.

Dalam catatan RBC Capital Markets, OPEC kemungkinan memutuskan perpanjangan kesepakatan pemangkasan produksi dengan Rusia pada pertemuan Juni 2019 mendatang.


"Kami meyakini OPEC kemungkinan akan memperpanjang kesepakatan untuk periode sepanjang 2019," imbuh RBC.

Produksi minyak mentah OPEC turun dari puncaknya di medio 2018 sebesar 32,8 juta bph menjadi 30,7 bph pada Februari 2019 lalu.

Kendati demikian, produksi minyak mentah AS kembali mencetak rekor pekan lalu di level 12,1 bph. Sebagai catatan, AS saat ini merupakan produsen minyak terbesar di dunia.


[Gambas:Video CNN] (sfr/bir)