Pagi hari ini sejumlah mata uang Asia masih menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Peso Filipina menguat 0,21 persen, yen Jepang menguat 0,07 persen, serta dolar Hong Kong dan baht Thailand yang sama-sama menguat 0,01 persen.
Namun di sisi lain, terdapat pula mata uang yang melemah, seperti ringgit Malaysia sebesar 0,02 persen, dolar Singapura sebesar 0,04 persen, dan won Korea Selatan sebesar 0,14 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski menguat, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah masih perlu diwaspadai. Sebab, ada sejumlah sentimen yang perlu diperhatikan, meski kemarin dihujani sentimen positif dari keputusan bank sentral AS The Fed dan Bank Indonesia (BI) yang sama-sama menahan suku bunga acuannya.
Untungnya, ketakutan investor perlahan reda setelah Uni Eropa memberikan tambahan tenggat waktu bagi tenggat Brexit, dari 29 Maret 2019 menjadi 12 April 2019 pada Kamis (21/3) malam.
Selain itu, rupiah juga harus waspada terhadap kenaikan harga minyak. Kemarin, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate sempat menyentuh angka US$60,33 per barel atau angka tertinggi sejak November kemarin.
Lihat juga:Investor Ragu-ragu, Harga Minyak Merosot |
Ketika harga naik, maka biaya impor komoditas minyak tentu akan lebih mahal, sehingga permintaan akan dolar semakin meningkat.
"Devisa yang 'terbakar' untuk keperluan impor menjadi lebih banyak sehingga menambah tekanan di transaksi berjalan. Rupiah pun punya kesempatan untuk melemah karena pondasi yang kembali rapuh," kata Ibrahim, Jumat (22/3).
Sehingga, ia memproyeksikan rupiah akan ditransaksikan di level penguatan Rp14.090 dan level pelemahan Rp14.157 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
[Gambas:Video CNN] (glh/bir)