BI Prediksi Ekonomi Kuartal I Tumbuh 5,2 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 22/03/2019 17:10 WIB
BI Prediksi Ekonomi Kuartal I Tumbuh 5,2 Persen Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia meramal pertumbuhan ekonomi kuartal I bisa mencapai 5,2 persen secara tahunan. Hal itu akan didorong penguatan konsumsi yang selama ini merupakan komponen terbesar dalam Produk Domestik Bruto (PDB).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan dorongan konsumsi disebabkan oleh dua faktor. Pertama, realisasi belanja bantuan sosial (bansos) yang besar pada awal tahun bisa mengangkat konsumsi bagi masyarakat berpendapatan rendah.

Menurut data Kementerian Keuangan, realisasi belanja bansos hingga Februari kemarin tercatat Rp23,6 triliun atau meningkat 70,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp13,9 triliun. Hal ini karena ada pencairan Program Keluarga Harapan (PKH) yang lebih cepat dengan nominal lebih besar dua kali lipat.


"Secara stimulus fiskal, belanja yang lari ke bansos meningkatkan konsumsi rumah tangga khususnya segmen di bawah. Ini pun secara langsung meningkatkan kontribusi belanja pemerintah, yang juga merupakan komponen PDB," terang Perry, Jumat (22/3).


Faktor kedua adalah inflasi yang rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi secara tahunan hingga Februari di angka 2,57 persen atau lebih rendah dibanding tahun lalu 3,18 persen. Jika harga barang kian stabil, artinya masyarakat punya daya beli. Dengan demikian, pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga ikut kinclong.

"Untuk itu, kami perkirakan konsumsi bisa bertumbuh di atas 5 persen. Bahkan, bisa mencapai 5,2 persen di kuartal I," terang dia.

Meski pertumbuhan konsumsi dan belanja pemerintah akan mumpuni, namun hal serupa diperkirakan tak akan terjadi pada investasi. Perry mengatakan investasi akan melambat seiring tren awal tahun yang selalu lebih rendah dibanding kuartal IV tahun sebelumnya. Dengan demikian, ia menaksir pertumbuhan investasi di triwulan I akan di bawah 3,5 persen.

Perlambatan investasi ini akan terjadi di sektor non-konstruksi. Sedangkan untuk konstruksi, investasi akan membaik seiring proyek infrastruktur maupun energi yang masih jalan.


"Memang, investasi di triwulan I akan melambat karena sesuai pola awal tahun, tapi setelah itu akan meningkat lagi," ungkap Perry. (glh/lav)