EDUKASI KEUANGAN

Mempersiapkan Uang Kuliah Anak Sejak Dini

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 30/03/2019 12:15 WIB
Mempersiapkan Uang Kuliah Anak Sejak Dini Ilustrasi. (Istockphoto/skynesher)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2019 sudah resmi diumumkan Jumat (22/3) lalu. Meski ujian sudah dilalui, namun kesempatan menempuh pendidikan di kursi perguruan tinggi bisa saja kandas bila tak ada kesiapan dana untuk membayar seluruh biaya pendidikan yang dibutuhkan.

Tak ingin hal itu terjadi, Perencana Keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andy Nugroho mengatakan dana untuk memenuhi biaya pendidikan anak sejatinya memang harus dipersiapkan sejak jauh-jauh hari. Khususnya, bagi orang tua yang mendambakan buah hatinya menempuh pendidikan di perguruan tinggi favorit.

"Idealnya, sejak anak lahir, orang tua mulai mencicil tabungan yang diperlukan untuk biaya pendidikan anak hingga tingkat tertinggi," ucapnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (22/3).


Ketika sudah merancang mimpi, orang tua, katanya, perlu memperkirakan berapa biaya pendidikan yang bakal dibutuhkan di perguruan tinggi. Ambil contoh, saat ini uang pangkal perguruan tinggi sekitar Rp50 juta.


Dengan besaran biaya tersebut orang tua perlu memperkirakan berapa jumlah uang pangkal sekitar 17-18 tahun ke depan. Asumsikan uang pangkal akan mencapai Rp150 juta.

Dengan besaran tersebut, dalam waktu 17-18 tahun anggaplah orang tua harus mengumpulkan Rp10 juta per tahun untuk biaya kuliah anak. Dari kewajiban menabung itu, sambungnya, orang tua kemudian perlu mengerucutkan strategi untuk mencapai nominal tersebut.

Termasuk, soal instrumen keuangan apa yang akan mereka gunakan. Sebab, menurut Andy, biaya pendidikan itu tak bisa hanya dipenuhi dari gaji yang bertahun-tahun disisihkan tanpa ada campur tangan dari hasil investasi.

"Kalau hanya dari tabungan, saya tidak yakin itu tertutup," imbuhnya.


Dari sisi instrumen keuangan, Andy mengatakan instrumen paling sederhana yang bisa digunakan adalah tabungan pendidikan dari perbankan nasional. Biasanya, skema yang ditawarkan adalah menarik sejumlah dana dari rekening pribadi orang tua untuk disimpan di rekening lain dalam jangka waktu sekian tahun.

Dana tersebut tidak bisa 'diutak-atik' hingga jangka waktu tabungan berakhir. Ia bilang instrumen ini sebenarnya cukup ampuh untuk menjaga kedisiplinan orang tua dalam menabung biaya pendidikan.

Sayangnya, imbal hasil (return) dari instrumen keuangan ini biasanya tidak terlalu besar. Bahkan, kadang tidak jauh berbeda dengan bunga deposito bank sekitar 5-6 persen.

"Tapi kalau orang tua ingin pakai instrumen ini karena aman, sarannya tinggal pilih-pilih tabungan pendidikan dari bank mana yang paling menarik dan menguntungkan," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Di sisi lain, Andy menyarankan agar orang tua mengutamakan tabungan pendidikan yang sudah menyertakan proteksi asuransi di dalam instrumen tersebut. Tujuannya, agar ketika sewaktu-waktu orang tua sakit atau meninggal dunia, tabungan tersebut tetap terjamin kelangsungannya dan bisa dimanfaatkan oleh anak.

Selain tabungan pendidikan, Andy mengatakan instrumen investasi lain yang bisa diambil untuk mempersiapkan biaya pendidikan adalah lahan dan properti. Pasalnya, aset lahan dan properti biasanya cocok untuk 'ditimbun' cukup lama, meski awalnya mungkin membutuhkan modal yang tak kecil.

"Properti sebenarnya tidak begitu likuid, sulit untuk dicairkan, tapi kelebihannya pertumbuhan return bisa saja lebih tinggi, apalagi kalau properti berlokasi di tempat strategis atau bakal terkena proyek," ungkapnya.


Kemudian, instrumen investasi lain yang bisa dijadikan pilihan untuk menambah persiapan biaya pendidikan, yaitu reksa dana, logam emas, dan saham. Untuk reksa dana, ia menyarankan orang tua mengambil jenis reksa dana campuran dan saham.

Ia mengatakan dua pilihan tersebut menawarkan imbal hasil yang tinggi dalam jangka panjang. Begitu pula dengan emas.

"Tapi kalau berani, bisa main saham, returnnya bisa saja lebih tinggi, meski berisiko," ujarnya.

Senada, Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Assad mengatakan persiapan biaya pendidikan harus dilakukan sejak jauh-jauh hari. Namun, bila orang tua benar-benar tidak bisa menabung atau baru bisa menabung jelang 2-3 tahun masa kuliah anak, maka pemilihan instrumen investasi sangat menentukan pengumpulan biaya pendidikan.


Menurutnya, bila waktu sudah 'mepet', maka instrumen reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap bisa jadi pilihan utama. Teja bilang, meski imbal hasil yang ditawarkan tidak terlalu besar, namun untuk kebutuhan 'mepet', instrumen ini sangat aman alias minim risiko.

"Jadi kalau pun kenapa-kenapa, justru tidak menimbulkan masalah baru atau tidak malah membuyarkan fokus menabung untuk kuliah anak karena sudah pasti aman, terus meningkat," jelasnya.

Selain reksa dana, ia menyarankan orang tua untuk mengambil surat utang yang ditawarkan pemerintah, baik Surat Berharga Negara (SBN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) alias sukuk. Pasalnya, imbal hasil yang ditawarkan cukup tinggi, misalnya saat ini ada di kisaran 8 persen hanya dalam 2-3 tahun kepemilikan.

"Sedangkan yang harus dihindari adalah reksa dana campuran dan saham, serta trading saham itu sendiri. Soalnya tinggi risiko. Begitu pula dengan properti, untuk jangka pendek, ini tidak likuid, butuh waktu jualnya," tuturnya.

(agt)