Pasokan Ketat Dongkrak Harga Minyak Hingga 2 Persen

CNN Indonesia | Rabu, 27/03/2019 07:40 WIB
Pasokan Ketat Dongkrak Harga Minyak Hingga 2 Persen Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menguat hampir 2 persen pada perdagangan Selasa (26/3), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan disebabkan oleh perhatian investor yang terpusat pada pengetatan pasokan akibat faktor geopolitik.

Dilansir dari Reuters, Rabu (25/3), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,76 menjadi US$67,97 per barel. Level harga tersebut tak jauh dari level tertinggi tahun ini, US$68,69 per barel, yang dicapai pada 21 Maret 2019 lalu.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$1,12 atau 1,9 persen menjadi US$59,94 per barel.

Pada penutupan perdagangan, harga minyak mentah berjangka tidak banyak berubah setelah Institut Perminyakan Amerika merilis data kenaikan stok minyak mentah AS sebesar lebih dari 1,9 juta barel pekan lalu. Sebagai catatan, di sepanjang tahun ini, harga minyak mentah telah terkerek lebih dari 25 persen.


Penguatan didukung oleh pelaksanaan kebijakan pemangkasan produksi yang dijalankan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia. Selain itu, mengetatnya pasokan juga terjadi akibat pengenaan sanksi AS terhadap Venezuela dan Iran.

Selain itu, pelabuhan utama ekspor minyak Venezuela Jose dan empat upgrader minyak mentah kesulitan untuk kembali beroperasi menyusul kejadian mati listrik besar-besaran pada Senin (24/3) lalu.

Kejadian tersebut merupakan kali kedua bulan ini. "Tidak ada listrik, semuanya berhenti," ujar pemimpin serikat pekerja minyak Josa Bodas kepada Reuters.

Hal ini terjadi akibat investasi yang kurang selama bertahun-tahun, serta kurangnya perawatan. Kondisi tersebut mengganggu kegiatan pengiriman ekspor minyak di Pelabuhan Jose. Akibatnya, total volume ekspor minyak tergerus dan terjadi keterlambatan bongkar muat minyak.


"Kami sedang melihat meningkatnya perhatian yang diberikan terhadap apa yang terjadi di Venezuela dan efek dari sanksi," terang Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian.

Sementara itu, kekhawatiran terhadap permintaan telah membatasi reli harga minyak. Hal itu terjadi seiring data manufaktur di Asia, Eropa, dan AS yang mencerminkan perlambatan ekonomi. Meski demikian, taruhan sejumlah investor terhadap kenaikan harga terus meningkat.

"Sejauh ini, kekhawatiran terhadap permintaan belum terbukti memberikan terlalu banyak faktor penghambat," tulis JBC Energy dalam catatannya.

Pada Jumat (22/3) lalu, kekhawatiran investor terhadap perekonomian global telah meningkat setelah data pabrik di Jerman dan AS yang mengecewakan.

"Risiko resesi telah meningkat ke level tertingginya sejak 2008," tandas Kepala Bidang Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen.


[Gambas:Video CNN] (sfr/bir)