Terpaksa Tunda Pelesiran Gara-gara Harga Tiket Pesawat Mahal

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 02/04/2019 12:01 WIB
Terpaksa Tunda Pelesiran Gara-gara Harga Tiket Pesawat Mahal Ilustrasi Bandara. (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur sudah menjadi tujuan Lia (30) sejak tahun lalu untuk berlibur bersama beberapa teman. Namun, rencana tersebut terpaksa bubar di tengah jalan lantaran harga tiket pesawat yang melonjak.

"Bikin rencana sudah setahun lalu, tapi batal karena harga tiketnya naik enggak masuk akal," ujar Lia kepada CNNIndonesia.com.

Rencananya, Lia dan beberapa teman akan berangkat ke pulau yang pernah dikunjungi pesepakbola David Beckam ini pada Juli mendatang. Ia pun sudah menghitung anggaran yang dibutuhkan untuk menjelajahi pulau tersebut.


Tahun lalu, menurut Lia, harga tiket pesawat menuju pulau tersebut masih di bawah Rp2 juta untuk sekali jalan jika menggunakan maskapai full service. Namun, kini harganya sudah melambung paling rendah Rp1,8 juta sekali jalan. Bahkan, untuk maskapai full service tarifnya hampir mencapai Rp3 juta sekali jalan.

"Lebih murah beli tiket ke China atau Jepang sepertinya, lebih banyak promonya," ungkapnya.


Ia pun mengaku belum memiliki rencana lain untuk menggantikan rencana liburan tersebut. Namun, menurut Lia, mungkin saja ia dan beberapa temannya kembali ke rencana awal jika harga tiket pesawat kembali normal.

"Mungkin kalau harga tiketnya turun, bisa kembali ke rencana awal. Sebenarnya kan sayang, banyak saya rasa yang jadi berpikir ulang untuk libur di dalam negeri kalau tiket malah. Pendapat daerah dari wisata akhirnya berkurang," jelas dia.

Senada, Ade (26) juga mengalami hal serupa. Pria yang bekerja sebagai peneliti ini harus mengurungkan niat liburan singkat (short getaway) ke Yogyakarta dan Bali.

"Jadi akhirnya saya memilih untuk ke Bandung saja, yang memang bisa dijangkau dengan kereta," terang dia.


Sementara Evan (29), mengaku kenaikan tarif pesawat bikin anggaran pelesirannya kian mengetat di tahun ini. Sementara, mengganti moda transportasi ke kereta tak menjadi pilihan bagi Evan. Alhasil, ia memilih untuk mengurangi frekuensi jalan-jalan.

"Untuk apa liburan kalau capek di jalan? Cuti juga harinya terbatas. Jadi meski mahal, saya tetap memilih penerbangan meski jarak dekat. Tapi kalau tarifnya sudah mahal sekali, lebih baik tidak usah saja jalan-jalan," terang dia.

Ia memaklumi maskapai tentu menaikkan tarif pesawat karena babak belur dengan kurs dolar di tahun lalu. Ditambah, harga avtur yang juga tak kunjung turun. Namun, ia meminta pemerintah untuk mengatur tarif batas atas pesawat agar konsumen semua golongan masyarakat bisa menikmati pesawat.

"Saya baca di berita katanya ada aturan batas bawah. Tapi salah, seharusnya batas atas. Kami sebagai konsumen tidak peduli, maunya harga murah dan tidak mau mahal-mahal. Makanya tarif batas atasnya saja yang diturunkan," jelasnya.


Bagasi Dihapus Bikin Kian Berat

Dino (29 tahun) lain lagi. Ia mengaku tetap bakal pelesiran ke Bali sesuai rencana pada Agustus mendatang meski tarif tiket mahal. Kendati demikian, ia mengaku akan mengurangi pengeluaran saat berpelesir karena berpergian dengan kantong yang lebih tipis.

"Jadi saya sudah menabung dengan hitung-hitungan yang matang. Tapi tiketnya naik tanpa ada sosialisasi, jadi sebenarnya masih bisa ke sana, tapi kurangi foya-foya saja," ungkap Dino.

Kenyataan ini harus diterima karena pesawat merupakan pilihan optimal untuk bepergian ke Bali. Lain cerita jika Dino memilih jalan-jalan jarak dekat seperti Surabaya dan Yogyakarta. Ia kemungkinan akan memilih kereta api karena dirasa lebih murah meski harus duduk delapan hingga 10 jam di dalam gerbong.

Kendati begitu, Dino tak berencana mengganti destinasi wisatanya. "Tapi kalau saya berencana jalan-jalan jarak dekat, mungkin kereta api akan menjadi pilihan utama. Apalagi saat ini kualitas kereta sudah bagus," imbuh dia.
[Gambas:Video CNN][Gambas:Video CNN]
Sejatinya, Dino memaklumi maskapai untuk menaikkan tarif pesawat terbang. Tetapi, itu harus disertai dengan pelayanan mumpuni. Contoh yang gampang, lanjut dia, adalah masalah ketepatan waktu penerbangan. Ia tak akan sudi menerima kenaikan tiket pesawat kalau maskapai masih sering terlambat.

Ia pun berharap maskapai menghapus tarif bagasi jika memang tarif pesawat yang dinaikkan. Menurutnya, kenaikan tarif harus dilakukan secara berkala dan ada sosialisasi yang baik, bukan dengan cara yang semena-mena dan terselubung.

"Saya juga berharap pemerintah lebih tegas dengan kompensasi kalau maskapai lalai. Sekarang memang ada kebijakan kompensasi, kalau delay lebih dari lima jam dikasih uang Rp300 ribu. Tapi kadang maskapai ada yang tidak melakukan itu," pungkasnya. (agi)