Akhir Perang Dagang AS dan China, Bursa Saham Asia Melaju

CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 12:01 WIB
Akhir Perang Dagang AS dan China, Bursa Saham Asia Melaju Ilustrasi pergerakan saham. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Saham-saham Asia melaju mendekati posisi tertinggi dalam delapan bulan terakhir seiring perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China yang diperkirakan bakal segera berakhir. Pembicaraan kedua negara kian dekat dengan kesepakatan, mengurangi keinginan investor untuk menempatkan investasi pada instrumen paling aman (safe haven) seperti yen Jepang.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang mengambil nafas setelah kenaikan lima hari berturut-turut membawanya ke level tertinggi sejak akhir Agustus. Saham China mulai menguat dengan indeks blue chip naik 0,9 persen. Sementara indeks Hang Seng Hong Kong sedikit lebih lemah.

Nikkei Jepang menguat 0,2 persen, mendekati posisi tertinggi dalam satu bulan terakhir.


"Sentimen risiko kemungkinan akan beragam pada Kamis karena investor mencerna perkembangan di sisi perdagangan di tengah angka ekonomi AS yang mengecewakan," kata ekonom ING yang berbasis di Manila Nicholas Mapa.

Data AS yang keluar pada Rabu menunjukkan aktivitas sektor jasa mencapai level terendah lebih dari 19 bulan pada bulan Maret dan gaji swasta tumbuh tak sesuai harapan, mendukung langkah Federal Reserve untuk menunda kenaikan suku bunga tahun ini.


Investor khawatir tentang perlambatan tajam dalam pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama.

"Fokus akan tetap pada negosiasi perdagangan AS-Cina yang sedang berlangsung dan data tenaga kerja AS pada hari Jumat," tambah Mapa.

Sentimen risiko minggu ini terbantu oleh laporan media yang menggembar-gemborkan kemajuan dalam pembicaraan perdagangan China-AS. Bloomberg melaporkan pada hari Kamis bahwa AS ingin menetapkan target 2025 untuk memenuhi kesepakatan dagang.

Rencananya, AS akan melihat China berkomitmen untuk membeli lebih banyak komoditas mereka, termasuk kedelai dan produk energi dan memungkinkan kepemilikan asing penuh bagi perusahaan AS yang beroperasi di China sebagai janji yang mengikat.

Pada hari Rabu, Financial Times melaporkan Amerika Serikat dan China semakin dekat untuk mencapai kesepakatan perdagangan akhir.


Investor tertarik untuk melihat apakah pembicaraan yang sedang berlangsung mengarah ke pertemuan yang lebih awal dari yang diantisipasi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk menandatangani perjanjian.

Semalam, Wall Street melambung lebih tinggi memperpanjang awal yang kuat karena reli di antara saham blue chip memberikan dorongan ke pasar yang lebih luas.

Dow naik 0,15 persen, sedangkan S&P 500 naik 0,21 persen dan Nasdaq 0,6 persen.

Pergerakan di pasar mata uang sangat kecil setelah ayunan besar semalam. Semua mata uang utama menguat pada safe-haven yen dengan dolar Australia yang sensitif terhadap risiko menyentuh level tertinggi lima minggu.


Dolar AS pada hari Kamis melemah terhadap sekeranjang mata uang ke 97.051. Euro naik tipis ke US$1,1244, mencapai tertinggi dalam dua minggu terakhir, sementara yen diperdagangkan pada 125,45.

Poundsterling menguat ke US$ 1,3177 setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May mengadakan pembicaraan dengan partai Buruh oposisi dalam upaya untuk memecahkan kebuntuan Brexit yang dapat menyebabkan kesepakatan keberangkatan yang lebih lembut dengan Uni Eropa.

Majelis Parlemen Inggris pada Rabu mengeluarkan undang-undang yang akan memaksa Mei untuk menunda Brexit dan mencegah risiko Inggris tak memiliki kesepakatan pada 12 April.

Di pasar komoditas, harga emas naik hingga US$1.292,21 per ounce. Sementara Minyak mentah AS turun 6 sen menjadi US$62,4 dan minyak mentah Brent naik 1 sen menjadi US$69,32. (Reuters/agi)