Stok AS Naik Tak Terduga, Harga Minyak Tergelincir

CNN Indonesia | Kamis, 28/03/2019 07:09 WIB
Stok AS Naik Tak Terduga, Harga Minyak Tergelincir Ilustrasi kilang minyak. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah tergelincir pada perdagangan Rabu (27/3), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan terjadi menyusul kenaikan tak terduga stok minyak mentah AS pada pekan lalu.

Dilansir dari Reuters, Kamis (28/3), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$0,14 atau 0,2 persen menjadi US$67,83 per barel.

Pelemahan lebih dalam terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,53 atau 0,9 persen menjadi US$59,41 per barel.


Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat stok minyak mentah Negeri Paman Sam menebal 2,8 juta barel pekan lalu. Padahal, para analis memperkirakan stok akan turun 1,2 juta barel.

Peningkatan stok salah satunya disebabkan oleh menurunnya ekspor minyak mentah AS akibat tumpahan kimia di Texas. EIA mencatat ekspor minyak mentah AS turun 506 ribu barel per hari (bph).


"Laporan pasar sedikit menekan harga (bearish)," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Menurut Flynn, pasar tidak menganggap laporan tersebut akan menekan harga lebih jauh karena sebagian besar kenaikan persediaan terjadi di Pantai Teluk (Gulf Cost) yang terpengaruh oleh gangguan pada pengapalan Houston Ship Channel.

Tangki petrokimia berisi bahan-bahan kimia tumpah pekan lalu di Houston. Akibatnya, pengapalan minyak mentah dari Houston terganggu selama beberapa hari. Pada Selasa (26/3), pemerintah Texas menggugat pemilik dari fasilitas penyimpanan tersebut.

"Ada kapal-kapal yang mengantri di saluran untuk keluar dan kapal-kapal yang mengantri untuk masuk ke saluran," ujar pegawai trading sektor energi bank investasi HJ Sims & Co Donald Morton.

Namun, Morton menilai permasalahan tersebut akan segera teratasi dengan sendirinya mengingat kondisi terburuk telah terlewati.


Di sisi lain, gangguan ekspor minyak mentah Venezuela telah membatasi penurunan harga minyak.

Penurunan ekspor Venezuela terjadi karena pengenaan sanksi AS berupa larangan operator kilang AS untuk membeli minyak mentah dari Venezuela. Selain itu, pelabuhan minyak utama Jose dan empat up grader minyak mentah di Venezuela belum bisa kembali beroperasi usai terjadi mati listrik selama tiga hari berturut-turut. Gangguan listrik tersebut terjadi untuk kedua kalinya pada bulan ini.

Harga minyak telah menanjak sekitar 30 persen dari level rendahnya pada 2018. Penguatan itu ditopang oleh pembatasan pasokan yang dilakukan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia. Tak hanya itu, pengenaan sanksi AS terhadap ekspor Venezuela dan Iran juga turut mendorong harga.

Di Rusia, sumber Reuters menyatakan rata-rata produksi minyak pada Maret sebesar 11,3 juta bph atau turun 0,3 persen dari rata-rata produksi bulan sebelumnya, 11,34 juta bph. Sebagai catatan, Rusia merupakan negara produsen minyak mentah non-OPEC terbesar di dunia.

Pada awal bulan ini, Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan Rusia berencana untuk mempercepat pemangkasan produksi minyak mentah.

Lebih lanjut, pengelola keuangan dan investasi global telah mengerek taruhannya pada posisi permintaan minyak akan tetap terjaga, meski terjadi reli harga pekan lalu. (sfr/agi)