Kekhawatiran dipicu oleh pengumuman Boeing yang menyatakan akan memangkas produksi pesawat Boeing 737. Sebagai informasi, pekan lalu Boeing memang mengumumkan akan memangkas produksi pesawat mereka dari 52 persen menjadi 42 persen per bulan.
Pemangkasan produksi dilakukan menyusul kecelakaan dua pesawat produksi mereka di Indonesia dan Ethiopia beberapa waktu lalu. Beberapa analis memperkirakan pemangkasan produksi tersebut akan menurunkan perkiraan laba Boeing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan tersebut juga akan menurunkan laba Boeing untuk tahun ini dan selama empat tahun ke depan.
"Boeing dapat terkena kewajiban terkait dengan biaya sertifikasi dan pengujian, penalti keterlambatan pengiriman kepada maskapai, kehilangan nyawa dari penerbangan Ethiopia ET 302 dan Lion Air penerbangan JT 610, dan hukuman gangguan produksi kepada pemasok," kata mereka seperti dikutip dari AFP, Selasa (9/4).
Morningstar juga menilai pembatasan operasional Boeing menyebabkan pendapatan menurun US$1,11 per saham. Namun, Morningstar mengatakan Boeing harus mampu meningkatkan produksi bulanan pesawat menjadi 57 pesawat, sebelum mencapai pertengahan 60-an dalam dekade berikutnya.
Sementara itu, Morningstar percaya Boeing akan tahan dengan masalah tersebut. "Kami yakin akan kemampuan Boeing untuk menghasilkan pengembalian di atas biaya modalnya akan tetap kuat hingga dekade mendatang," kata Morningstar.
CFRA Research mempertahankan peringkat 'beli' pada Boeing meskipun memangkas estimasi pendapatan pada 2019. Meskipun pergerakan saham Boeing akan bergejolak dalam beberapa bulan ke depan, perusahaan diperkirakan berjalan dengan baik pada waktunya.
"Dengan jangka yang lebih panjang, permintaan ruang angkasa yang kuat, pesanan dan backlog Boeing yang kuat dan rekam jejak pelaksanaannya cenderung membebani," kata CFRA Research.
(afp/agt)