Saham Boeing Ambrol usai Umumkan Pangkas Produksi Pesawat

CNN Indonesia | Selasa, 09/04/2019 11:41 WIB
Saham Boeing Ambrol usai Umumkan Pangkas Produksi Pesawat Ilustrasi Boeing. (Stephen Brashear/Getty Images/AFP).
Jakarta, CNN Indonesia -- Saham Boeing merosot sampai dengan 4,4 persen menjadi US$374,52 per saham pada penutupan perdagangan, Senin (8/4) waktu AS. Kemerosotan terjadi karena kekhawatiran pasar atas prospek penurunan laba perusahaan tersebut.

Kekhawatiran dipicu oleh pengumuman Boeing yang menyatakan akan memangkas produksi pesawat Boeing 737. Sebagai informasi, pekan lalu Boeing memang mengumumkan akan memangkas produksi pesawat mereka dari 52 persen menjadi 42 persen per bulan.

Pemangkasan produksi dilakukan menyusul kecelakaan dua pesawat produksi mereka di Indonesia dan Ethiopia beberapa waktu lalu. Beberapa analis memperkirakan pemangkasan produksi tersebut akan menurunkan perkiraan laba Boeing.


Sementara itu Bank of America Merill Lynch memperkirakan keputusan tersebut akan menimbulkan "gangguan" produksi Boeing 737 selama enam hingga sembilan bulan, naik dari perkiraan sebelumnya tiga hingga enam bulan.


Keputusan tersebut juga akan menurunkan laba Boeing untuk tahun ini dan selama empat tahun ke depan.

"Boeing dapat terkena kewajiban terkait dengan biaya sertifikasi dan pengujian, penalti keterlambatan pengiriman kepada maskapai, kehilangan nyawa dari penerbangan Ethiopia ET 302 dan Lion Air penerbangan JT 610, dan hukuman gangguan produksi kepada pemasok," kata mereka seperti dikutip dari AFP, Selasa (9/4).

Permasalahan tersebut kata mereka, juga bisa berdampak terhadap kerugian reputasi Boeing. Peristiwa ini bisa mengikis pangsa pasar jangka panjang dan kekuatan harga 737 MAX.

Morningstar juga menilai pembatasan operasional Boeing menyebabkan pendapatan menurun US$1,11 per saham. Namun, Morningstar mengatakan Boeing harus mampu meningkatkan produksi bulanan pesawat menjadi 57 pesawat, sebelum mencapai pertengahan 60-an dalam dekade berikutnya.


Sementara itu, Morningstar percaya Boeing akan tahan dengan masalah tersebut. "Kami yakin akan kemampuan Boeing untuk menghasilkan pengembalian di atas biaya modalnya akan tetap kuat hingga dekade mendatang," kata Morningstar.

CFRA Research mempertahankan peringkat 'beli' pada Boeing meskipun memangkas estimasi pendapatan pada 2019. Meskipun pergerakan saham Boeing akan bergejolak dalam beberapa bulan ke depan, perusahaan diperkirakan berjalan dengan baik pada waktunya.

"Dengan jangka yang lebih panjang, permintaan ruang angkasa yang kuat, pesanan dan backlog Boeing yang kuat dan rekam jejak pelaksanaannya cenderung membebani," kata CFRA Research.
(AFP/agt)