Ada Bocah Temani Ibu Pedemo Eks Karyawan Sevel

Ulfa Arieza, CNN Indonesia | Rabu, 10/04/2019 18:46 WIB
Ada Bocah Temani Ibu Pedemo Eks Karyawan Sevel Ilustrasi Seven Eleven. (REUTERS/Agoes Rudianto).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bimba (6 tahun) terpaksa membolos sekolah hari ini, Rabu (10/4). Ia mengikuti sang ibu, Ade Ratna Sari (33 tahun) berdemo menuntut nasib pesangon-nya yang belum dibayarkan oleh PT Modern Sevel Indonesia (MSI).

Ade mengaku mengajak Bimba yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK) lantaran tak ada yang menjaga di rumah. Ia mengaku tak pernah absen berdemo bersama para eks karyawan 7-Eleven yang senasib sejak gerai itu ditutup Juli 2017 lalu.

"Saya ajak terus karena tidak ada yang jaga. Ya, bagaimana lagi, sudah dua tahun kami menunggu hak kami," tuturnya kepada CNNIndonesia.com.


Ade merupakan salah satu karyawan yang menjadi saksi perjalanan 7-Eleven di Indonesia. Ia telah bekerja di Modern Group selama 11 tahun terhitung sejak tahun 2006. Mulanya, ia bekerja di PT Modern Putra Indonesia.


Ketika 7-Eleven dibuka pada 2009, ia ikut bermigrasi ke gerai waralaba itu. Karirnya di 7-Eleven dimulai dari bawah sebagai sales hingga akhirnya mampu menduduki posisi supervisor.

Ia bercerita bahwa dulunya bekerja di 7-Eleven adalah kebanggaan. Selain itu, lingkungan kerjanya cukup nyaman. Ia bahkan belajar beberapa keterampilan, seperti penataan displai, menghitung ketersediaan barang, mencari omzet, dan sebagainya.

Ia pun mengaku sempat kagum dengan bos-bos 7-Eleven, seperti Henri Honoris dan Sungkono Honoris. Ade tak segan-segan meminta berfoto bersama dua orang tersebut ketika menghadiri acara kantor. Namun, kebanggaan itu harus berakhir kecewa ketika perusahaan tak kunjung memenuhi hak karyawan usai PHK.

"Dulu saya bangga kerja di 7-Eleven, saya senang dengan Pak Henri dan Pak Sungkono. Kalau ada acara saya ingin sekali foto sama mereka. Tapi pas kejadian seperti ini, sangat kecewa," paparnya.


Saat ini, ia mengaku menikmati hidupnya sebagai ibu rumah tangga. Pernah, Ade bekerja di sebuah outlet minuman herbal, namun hanya bertahan enam bulan. Kini, suaminya yang bekerja sebagai guru menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga kecilnya. Oleh karena itu, pesangon dari 7-eleven sangat dinanti Ade.

Sementara itu, Indra (45 tahun) yang juga ikut berdemo mengaku banting setir menjadi pengemudi ojek online sejak 7-Eleven gulung tikar. Pria yang berdomisili di Tanjung Duren itu harus menafkahi dua anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan kuliah.

Hampir setengah umurnya, Indra habiskan untuk bekerja di Modern Group. Mulanya, ia bekerja di PT Modern Putra Indonesia pada 1993.

Sama halnya dengan Ade, ia merupakan saksi perjalanan 7-Eleven di Indonesia, sejak gerai itu pertama dibuka hingga gulung tikar. Selama bekerja di 7-Eleven ia pernah ditempatkan sebagai General Affair (GA) dan legal.


Ia tak menyangka, 25 tahun karirnya di Modern Group harus berakhir dengan berdiri di tengah panas matahari demi uang pesangon.

"Panas tidak masalah, ikhlas saja, karena tuntutan kami masih ada. Sebetulnya, permintaan kami sederhana, begitu pesangon dikasih, selesai," katanya.

Kini, Indra terpaksa menjadi pengemudi ojek online. Meski, pekerjaannya kini lebih berat, dapur harus tetap mengepul. Ia sendiri mengaku kapok jika harus kembali melamar sebagai karyawan perusahaan karena trauma jika harus berakhir dengan PHK.

"Di ojek online ini, kami semakin kerja keras semakin banyak uangnya, kalau semakin malas uangnya tidak ada," ungkapnya.

[Gambas:Video CNN]

Ade, Indra, dan eks karyawan 7-Eleven lainnya belum tahu kapan perjuangan mereka menuntut pesangon berbuah manis. Hingga kini, baru sekitar 37,35 persen karyawan Sevel yang telah menerima pesangon.

Setelah berdiri hingga lebih dari satu jam, tak seorang pun manajemen MSI menemui mereka. Kini, mereka hanya bisa pasrah agar perusahaan membuka hati melunasi pesangon mereka.
(agi)