Faisal Basri Kritik Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandi

CNN Indonesia | Kamis, 11/04/2019 20:38 WIB
Faisal Basri Kritik Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandi Ekonom UI Faisal Basri menilai keluhan kalangan emak-emak pendukung Prabowo-Sandiaga terkait harga pangan yang tinggi tak mewakili kondisi yang sebenarnya. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menilai kalangan emak-emak pendukung kubu calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tak mewakili gambaran nyata dari kondisi dan keluhan para ibu yang sebenarnya di Indonesia.

Mendekati Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, muncul kalangan ibu dari kubu 02 atau yang akrab disapa dengan sebutan 'emak-emak'. Kalangan itu kerap memberi keluhan kepada publik bahwa kondisi ekonomi saat ini cukup sulit. Hal itu, menurut para emak, ditandai dengan harga-harga bahan kebutuhan pokok yang tinggi.

Tak lama berselang, muncul pernyataan dari Sandiaga yang mengatakan kalangan emak-emak sering 'curhat' lantaran tempe kini setipis kartu kredit dan uang Rp100 ribu hanya bisa digunakan untuk membeli bawang merah dan cabai saja. Namun, menurut Faisal, hal tersebut sejatinya tidak benar karena berbagai indikator justru mencerminkan hal sebaliknya.


"Ibu-ibu dari kubu penantang yang tampil sebagai politis dadakan itu tidak mewakili banyak ibu-ibu sebenarnya. Uang Rp100 ribu masih bisa digunakan untuk banyak hal," ujarnya di kawasan SCBD, Jakarta Pusat, Kamis (11/4).


Ia menjelaskan hal ini tercermin dari tingkat keamanan pangan dunia (Global Food Security Index/GFSI). Berdasarkan data tersebut, akses bahan pangan bagi masyarakat Indonesia berada di peringkat 65 pada 2018. Peringkat tersebut membaik bila dibandingkan dua tahun sebelumnya, yaitu di peringkat 74.

"Ini menunjukkan ada perbaikan, bukan penurunan, walaupun ranking ini masih rentan. Tapi artinya, akses pangan masyarakat masih baik," ungkapnya.

Kemudian, indikator lain yang bisa memastikan bahwa tingkat akses bahan kebutuhan pokok di Indonesia saat ini masih cukup baik dan tidak berada pada tingkat sulit adalah inflasi. Terbukti, inflasi Indonesia cukup rendah dan stabil dalam empat tahun terakhir.


Pada 2015, inflasi berada di angka 3,35 persen. Lalu, pada 2016 sebesar 3,02 persen. Kemudian, 2017 menjadi 3,61 persen, dan 2018 3,13 persen. Kendati begitu, ia tidak menampik bila harga bahan pokok memang kerap naik turun di pasar. Namun, secara keseluruhan, menurutnya, naik-turun itu masih dalam batas wajar karena tidak sampai membuat inflasi membengkak.

"Inflasi rendah, bertahan lama sejak sepanjang sejarah merdeka. Inflasi masih bisa dikendalikan dan tempe yang dijual tidak setipis credit card. Maka, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?" ucapnya sembari berkelakar.

Lebih lanjut ia mengatakan sejumlah harga-harga penunjang komponen hidup keluarga pun relatif terjaga. Misalnya, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) belakangan justru diturunkan oleh pemerintah. Lalu, tarif transportasi massal Transjakarta tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir sebesar Rp3.500 per penumpang berkat subsidi yang terus dialirkan pemerintah. (uli/agi)