Neraca Perdagangan Maret Mengalami Surplus US$540 Juta

CNN Indonesia | Senin, 15/04/2019 11:36 WIB
Neraca Perdagangan Maret Mengalami Surplus US$540 Juta Kepala BPS Suhariyanto menyatakan neraca perdagangan sepanjang Maret 2019 mengalami surplus US$540 juta. (CNN Indonesia/Galih Gumelar)
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan neraca perdagangan dalam negeri sepanjang Maret 2019 kemarin mengalami surplus sebesar US$540 juta. Surplus naik dibandingkan neraca dagang Februari yang hanya US$330 juta. 

Namun surplus tersebut masih lebih rendah dari Maret 2018 yang mencapai US$1,09 miliar. Dengan surplus tersebut, secara kumulasi, defisit perdagangan pada Maret 2019 membuat total neraca perdagangan selama kuartal I 2019 mengalami defisit US$190 juta.

Kinerja tersebut lebih buruk ketimbang kuartal I 2018 yang mencatatkan surplus US
$280 juta.  Kepala BPS Suhariyanto mengatakan defisit perdagangan terjadi karena nilai ekspor sebesar US$14,03 miliar dan impor US$13,49 miliar pada Maret 2018.


Kinerja ekspor disumbang oleh ekspor pertambangan yang naik 31,08 persen menjadi US
$2,36 miliar dan industri pengolahan yang naik 9,48 persen menjadi US$10,31 miliar. "Kenaikan ekspor didukung oleh komoditas besi, logam, dan tembaga," ucapnya di Kantor BPS, Senin (15/4).



Sementara ekspor industri pertanian tumbuh 15,91 persen menjadi US$270 juta pada bulan lalu. Namun, ekspor industri migas justru terkontraksi 1,57 persen menjadi US$1,09miliar.

"Peningkatan ekspor pertanian terjadi pada rumput laut, ganggang, dan mutiara. Sementara yang turun adalah jagung, sarang burung, dan buah-buahan musiman," katanya.

Sementara kinerja impor meningkat 10,31 persen dibandingkan Februari 2019. Kinerja impor meningkat pada semua jenis barang. Barang konsumsi naik 13,49 persen menjadi US$1,15 miliar.

"Kenaikan impor barang konsumsi terjadi di beberapa barang, yaitu mesin AC, anggur segar dari Australia, jeruk mandarin, dan karena mendekati bulan Ramadhan, jadi impor kurma meningkat," ungkapnya.

Lalu, impor barang baku/penolong meningkat 12,34 persen menjadi US$10,14 miliar. "Peningkatan impor barang modal berupa pemanas air, laptop, dan kendaraan truk," jelasnya.

Secara keseluruhan ada jenis impor yang turun cukup tajam misalnya mesin dan peralatan, kendaraan dan bagiannya, bahan kimia organik, dan benda-benda dari besi.



(uli/agt)