Sebelumnya, OOG telah menandatangani kesepakatan kerangka kerja sama strategis dengan PT Pertamina (Persero) untuk proyek tersebut pada akhir tahun lalu. Dalam kesepakatan tersebut, OOG memegang porsi patungan saham 90 persen dan Pertamina 10 persen.
Chairman OOG Khalfan Al Riyami mengungkapkan mitra diperlukan mengingat besarnya kebutuhan pembiayaan proyek. Al Riyami memperkirakan total nilai proyek mencapai US$15 miliar. Mitra bisa membantu permodalan maupun pengerjaan proyek.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perusahaan membuka kesempatan bagi perusahaan lokal maupun asing jika ingin menjadi mitranya bersama Pertamina. Bagi perusahaan, Indonesia memiliki potensi besar dari sisi populasi, konsumsi, dan pertumbuhan ekonomi.
Dalam lima bulan ke depan, perusahaan menargetkan bisa merampungkan studi kelayakan pendanaan (bankable feasibility study) proyek GRR Bontang. Perusahaan menargetkan GRR Bontang bisa beroperasi sepenuhnya pada 2025 - 2026.
Gandeng Perusahaan Lokal Bangun Fasilitas Penunjang
Saat ini, lanjut Al Riyami, OOG telah menandatangani nota kesepahaman dengan dua mitra lokal untuk membangun fasilitas penunjang (EPC OSBL) proyek GRR Bontang yaitu PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) dan PT Meta Epsi.
Meta Epsi bergerak di bidang teknis, pengadaan dan konstruksi. Sementara, MINA bergerak dalam bidang pengembangan properti dan hotel.
"Kami menunjukkan intensi baik di Indonesia. Kami memilih mereka sebelum perusahaan di luar Indonesia," ujarnya.
[Gambas:Video CNN]
Nantinya, kedua perusahaan akan membangun sejumlah fasilitas pendukung operasional kilang minyak dan petrokimia di Bontang seperti pembangkit listrik, pengolahan limbah, dan jaringan pipa. Proyeksi nilai pekerjaan keduanya mencapai US$3 miliar. (sfr/lav)