Jet Airways Gagal Terima Dana Darurat, Operasional Dibekukan

CNN Indonesia | Selasa, 16/04/2019 16:00 WIB
Jet Airways Gagal Terima Dana Darurat, Operasional Dibekukan Ilustrasi Jet Airways. (REUTERS/Adnan Abidi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Operasional maskapai penerbangan Jet Airways dibekukan sementara waktu, menyusul penolakan konsorsium pemberi pinjaman untuk mencairkan dana darurat. Sejatinya, dana darurat akan digunakan demi menyelamatkan maskapai terbesar kedua di India tersebut.

Mengutip AFP, Selasa (16/4), rapat dewan darurat antara konsorsium pemberi pinjaman dengan manajemen Jet Airways dijadwalkan kemarin. Namun, dalam rapat itu, kreditur menolak merilis dana darurat.

Kepala Eksekutif Vinay Dube membenarkan kabar tersebut. "Manajemen akan mencari panduan dari dewan untuk menentukan langkah selanjutnya ke depan," ujarnya.

Ini artinya manajemen terpaksa memperpanjang penangguhan operasional maskapai. Dube menuturkan pembatalan penerbangan internasional diperpanjang hingga Kamis, 18 April 2019.


Beberapa pekan terakhir, ribuan penumpang tujuan internasional terlantar. Perusahaan diketahui berutang lebih dari US$1 miliar. Selain itu, staf dan pilot tak menerima gaji dalam beberapa bulan terakhir.

Saat ini, hanya tersisa tujuh pesawat Jet Airways yang bisa beroperasi setelah puluhan lainnya disita oleh kreditur.

Kreditur Jet Airways merupakan konsorsium bank-bank BUMN India di bawah pimpinan State Bank of India (SBI). Mereka menjanjikan memberikan US$218 juta dana darurat sebagai bagian dari rencana penyelesaian utang.

Namun, sampai saat ini, sebagian besar dana belum juga dicairkan dan Jet Airways di bawah tekanan menuju ambang kehancuran.


Sebelumnya, SBI berencana mencari pembeli Jet Airways setelah dana darurat cair. Namun, hingga batas waktu yang ditentukan terlewati, SBI belum juga menerima pinangan mitra yang mau mengakuisisi 75 persen saham perusahaan penerbangan tersebut.

Padahal, sebelumnya beredar kabar Etihad Airways, pemegang 24 persen saham Jet Airways, menyatakan minat untuk membeli saham pengendali.

[Gambas:Video CNN]



(AFP/bir)