Pebisnis Minta Kubu Capres Tak Sebar Isu Aneh Jelang Nyoblos

CNN Indonesia | Selasa, 16/04/2019 15:30 WIB
Pebisnis Minta Kubu Capres Tak Sebar Isu Aneh Jelang Nyoblos Ketua Gapmmi Adhi Lukman meminta masing-masing kubu calon presiden untuk tidak mengembuskan isu-isu tendensius selama pekan pemilihan umum (Pemilu) 2019. (Safyra Primadhyta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaku usaha meminta masing-masing kubu calon presiden untuk tidak mengembuskan isu-isu tendensius selama pekan pemilihan umum (Pemilu) 2019. Hal itu demi menjaga kestabilan usaha dan investasi di tengah sikap pelaku usaha yang menunggu dan mengamati (wait and see).

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman mengatakan momentum Pemilu seharusnya adalah masa-masa cuan bagi pelaku industri makanan dan minuman (mamin).

Ia mengatakan pertumbuhan industri mamin di kuartal I 2019 diharapkan lebih baik dibanding kuartal I 2018 yang mencapai 12,7 persen.


Namun, pertumbuhan ini bisa tertahan jika ada isu-isu yang berembus secara dadakan. Adhi mencontohkan salah satu isu yang dulu berembus menjelang pemilu 2014 adalah masalah perpajakan, sehingga bikin pelaku usaha kian wait and see. Hanya saja, Adhi tak menyebut isu yang berembus kala itu.


"Pemilu pasti ada dampak, meski memang kami perkirakan tidak begitu signifikan, tapi yang kami inginkan hanya iklim usaha yang kondusif. Jangan ada isu yang aneh-aneh saja terlebih dulu," jelas Adhi, Selasa (16/4).

Namun, menurut dia, dinamika tahun politik tahun terhadap dunia usaha tahun ini lebih kondusif dibanding sebelum-sebelumnya, sehingga dampaknya ke investasi dan produksi makanan dan minuman kuartal I bisa mumpuni. Meski begitu, ia tak bisa menilai berapa besar pengaruh pemilu ke pertumbuhan industri mamin secara pasti.

"Nanti pemerintah katanya mau ajak diskusi lagi mengenai pertumbuhan, tapi setelah pemilu saja. Sejauh ini dari hasil lapangan, baik-baik saja (pertumbuhannya)," jelas Adhi.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PT Pan Brothers Tbk Anne Patricia Sutanto mengatakan hal serupa juga dibutuhkan industri tekstil. Pada masa kampanye dan pemilu, permintaan tekstil dan garmen memang meningkat pesat. Namun, pertumbuhannya tidak sinambung mengingat momen ini hanya terjadi selama lima tahun sekali.


Maka itu, dibutuhkan situasi yang tidak bising agar industri tekstil tetap melakukan ekspansi di tahun ini dan bisa meningkatkan ekspor. Tahun ini, industri tekstil secara keseluruhan menargetkan pertumbuhan ekspor 7 persen atau lebih rendah dari tahun lalu 13,2 persen karena beberapa mesin tekstil mengalami perbaikan.

"Harus dipastikan bahwa kepastian berusaha itu stabil, karena korbannya bukan hanya pengusaha tapi jelas rakyat Indonesia. Apalagi industri kami mempekerjakan banyak orang, kalau sampai situasinya tidak stabil, banyak orang mau makan apa?" kata Anne.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)