Jokowi Menang Quick Count, Rupiah Jadi Jawara Asia Hari Ini

CNN Indonesia | Kamis, 18/04/2019 16:41 WIB
Jokowi Menang Quick Count, Rupiah Jadi Jawara Asia Hari Ini Ilustrasi money changer. (Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah melonjak 0,29 persen di posisi Rp14.044 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (18/4), dari posisi Selasa (16/4) di level Rp14.085 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Intebank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.016 atau menguat dibanding Selasa yakni Rp14.066 per dolar AS. Hari ini, rupiah berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp14.052 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,32 persen, yuan China melemah 0,26 persen, dan won Korea Selatan melemah 0,19 persen. Kemudian, dolar Singapura melemah 0,16 persen, peso Filipina menguat 0,09 persen, dan baht Thailand melemah 0,08 persen.


Sementara itu, terdapat mata uang yang menguat seperti dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen, rupee India sebesar 0,09 persen, dan yen Jepang sebesar 0,17 persen. Di sisi lain, mata uang negara maju tercatat melemah, seperti euro sebesar 0,33 persen, poundsterling Inggris sebesar 0,22 persen, dan dolar Australia sebesar 0,21 persen.


Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah terdorong karena rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I sebesar 6,4 persen. Meski ini menjadi laju pertumbuhan ekonomi terlambat sejak 2009, namun China batal memiliki pertumbuhan ekonomi terlemah sejak 1990.

"Data ini memunculkan harapan bahwa ekonomi China tidak akan mengalami hard landing, meski memang ada perlambatan. Sepertinya, gelontoran stimulus dari pemerintah dan Bank Sentral China bisa menjaga performa ekonomi China," jelas Ibrahim, Kamis (18/4).

Kemudian, faktor penguatan rupiah lainnya juga didorong oleh hasil hitung cepat pemilu 2019 yang memenangkan pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Meski perhitungan baru sebatas quick count, namun hasilnya kadang tak jauh berbeda dengan rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).


"Harus diakui bahwa investor memang lebih nyaman jika Jokowi kembali menjadi presiden. Sebab, terpilihnya Jokowi memberi kepastian bahwa kebijakan pemerintah tidak akan berubah signifikan. Plus berbagai reformasi struktural seperti pembenahan defisit transaksi berjalan (current account) akan dilanjutkan," tutur Ibrahim.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)