Sektor Ritel Berharap Berkah dari Klaim Kemenangan Capres

CNN Indonesia | Selasa, 23/04/2019 11:54 WIB
Sektor Ritel Berharap Berkah dari Klaim Kemenangan Capres Ilustrasi. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah)
Jakarta, CNN Indonesia -- Klaim kemenangan kedua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden usai Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 tak membuat sektor ritel khawatir. 

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta menilai secara umum, sektor penjualan ritel tak terkena imbas besar atas klaim kemenangan kedua calon tersebut.

"Biasa saja. Normal karena kami kan harus menjalankan aktivitas kami buka toko," ujar Tutum.


Menurut Tutum, klaim kemenangan merupakan hal biasa dan merupakan hak kedua calon. Syaratnya; klaim kemenangan tidak membuat kekacauan dan memaksakan kehendak kepada publik.


"Silakan masing-masing calon mengungkapkan tetapi masyarakat yang akan menilai," ujarnya.

Tutum mengatakan  secara situasional, klaim kemenangan kedua calon justru bisa menguntungkan sektor ritel. Pasalnya, dengan klaim tersebut pesanan konsumsi atau atribut lain untuk kegiatan masing-masing kubu terhadap ritel bisa meningkat.

Selain itu, keramaian yang ditimbulkan akibat aksi saling klaim tersebut juga bisa menjadi peluang bagi pedagang untuk menjajakan dagangannya. Ia memang tak menampik, selain memberikan keuntungan, aksi saling klaim juga bisa menimbulkan kerugian.

Kerugian bisa timbul kalau aksi saling klaim tersebut menimbulkan kekacauan dan memaksa masyarakat menutup tokonya.

[Gambas:Video CNN]

"Namun, Secara garis besar, kami lihat tidak ada apa-apa, berjalan normal," ujarnya.

Ke depan, Tutum berharap proses penghitungan hingga penetapan pemenang oleh KPU bisa berjalan lancar.  "Kami harus percaya oleh institusi yang kita bentuk sendiri," ujarnya.

Senada dengan Tutum, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman tak ingin ambil pusing mendengar klaim dari kedua pasangan calon.  Ia memilih mengambil sisi positif dari aksi saling klaim tersebut.

Pasalnya, aksi saling klaim diyakini akan mendongkrak konsumsi makanan dan minuman. Meski tak signifikan, pada saat simpatisan kedua calon menggelar kegiatan syukuran atau pesta kemenangan diyakini akan mendongkrak penjualan makanan dan minuman.


"Dampak (konsumsi) itu tidak signifikan tetapi kita berpikir positif saja," ujar Adhi.

Menurut Adhi, dunia usaha tetap akan berpegangan pada hasil perhitungan resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang baru akan selesai pada Mei 2019 mendatang. Pasalnya, pelaku usaha lebih berpikir pragmatis dan realistis berdasarkan fakta.

Apalagi, pemerintah telah berkomitmen untuk menjaga kondisi aman dan kondusif, serta ingin menjaga keberlanjutan kebijakan. 
"Menurut saya, klaim dari pihak lain atas kemenangan masing-masing tidak ada pengaruh, mereka (pelaku usaha) percaya pada KPU," ujarnya.

Kendati demikian, sejauh ini, pelaku usaha dan investor asing cenderung melihat pemerintah petahana bakal berlanjut berdasarkan hasil hitung cepat lembaga survei yang terakreditasi oleh KPU. Karenanya, aktivitas investasi tidak terganggu.

"Investor ada yang mau merealisasikan investasi dan mencari calon mitra. Tanggal 2 dan 3 Mei 2019 nanti ada delegasi dari Taiwan. Mereka sudah menyampaikan ada beberapa yang ingin masuk ke industri makanan dan minuman dan industri permesinan untuk makanan dan minuman," ujarnya.

(sfr/agt)