Pelunasan Utang, First Media Tunggu Jawaban Kemenkeu

CNN Indonesia | Jumat, 26/04/2019 20:24 WIB
Pelunasan Utang, First Media Tunggu Jawaban Kemenkeu Ilustrasi. (CNN Indonesia/Rebeca Joy Limardjo)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT First Media Tbk (KBLV) tengah menunggu jawaban dari Kementerian Keuangan terkait pelunasan utang anak usaha mereka, PT Internux. PT Internux merupakan produsen jaringan akses data nirkabel Bolt.

PT Internux diketahui memiliki kewajiban kepada pemerintah sebesar Rp708,3 miliar. Utang ditanggung atas penggunaan frekuensi 2,3 GHz.

Pada 14 November 2018 silam, Pengadilan Niaga Jakarta Pusat membacakan putusan perjanjian damai atau homologasi. Dengan demikian, maka Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) PT Internux berakhir damai.


Salah satu isi proposal perdamaian adalah PT Internux menjanjikan pembayaran utang secara mencicil selama 10-30 tahun kepada seluruh kreditur, termasuk Kementerian Komunikasi dan Informatika. Saat ini, utang tersebut telah dilimpahkan kepada Kementerian Keuangan.


Dalam laporan keuangan 2018, perseroan memiliki liabilitas sebesar Rp5,67 triliun.  
"Kami juga mengusulkan kepada Kementerian Keuangan, tetapi pemerintah belum menjawab," kata Presiden Direktur Independen First Media Harianda Noerlan, Jumat (26/4).

Ia mengatakan pihaknya telah mencicil sebanyak dua kali kepada pemerintah. Namun, Harianda enggan menyebut besaran setoran itu.

Di sisi lain, ia menyatakan bahwa perseroan telah menyelesaikan proses pengembalian dana (refund) untuk seluruh pelanggan pada 28 Februari 2019 sesuai dengan target perseroan sebelumnya.

Masih Merugi

Harianda memprediksi perseroan masih akan merugi tahun ini. Pasalnya, Bolt berkontribusi sebesar 80 persen kepada pendapatan konsolidasi dari First Media.  Ia menuturkan tahun ini perseroan hanya akan mengandalkan kinerja anak usaha lainnya, antara lain, Link Net, MSH Niaga Telcom, PT Prima Wira Utama, BIG TV, dan First Media Production.


Perseroan menargetkan pendapatan tahun ini secara konsolidasi mencapai Rp220 miliar.

Anak usaha First Media menjalankan usaha di beberapa bidang antara lain, penyediaan infrastruktur telekomunikasi dan in building solution, jasa nilai tambah kartu panggil (telepon), penyediaan konten berita, dan rumah produksi untuk iklan dan konten siaran televisi.

"Itu berasal dari pendapatan konten dan berita sekitar Rp105 miliar, bisnis infrastruktur telekomunikasi sebesar Rp95 miliar, dan juga kebetulan kami mempunyai beberapa gedung yang kami sewakan. Dari sewa itu sekitar Rp20 miliar yang kami akan peroleh di 2019," paparnya.

Tahun lalu, First Media mencatatkan rugi sebesar Rp3,49 triliun naik dari sebelumnya rugi Rp1,1 triliun. Kerugian ini disebabkan pendapatan perseroan tergerus dari Rp982 miliar di 2017 menjadi Rp901 miliar di 2018. (ulf/agt)