Pakai Kredit, Sri Mulyani Dorong Eksportir Ekspansi ke Afrika

CNN Indonesia | Rabu, 27/03/2019 19:48 WIB
Pakai Kredit, Sri Mulyani Dorong Eksportir Ekspansi ke Afrika Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai menyaksikan penandatanganan perjanjian Kredit Modal Kerja Ekspor melalui National Interest Account (NIA) antara Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan PT Wijaya Karya Tbk (Wika) di Jakarta, Rabu (27/3). (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mendorong perusahaan domestik berani ekspor ke negara-negara nontradisional di Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Hal itu dilakukan untuk mengurangi defisit pada transaksi berjalan.

"Kami melihat pertumbuhan ekonomi di negara Asia Selatan seperti India, Bangladesh itu cukup tinggi. Afrika juga diperkirakan sebagai kawasan yang akan terus berkembang," ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati usai menyaksikan penandatanganan perjanjian Kredit Modal Kerja Ekspor melalui National Interest Account (NIA) antara Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan PT Wijaya Karya Tbk (Wika) di Jakarta, Rabu (27/3).

Sri Mulyani mengungkapkan ekspor tidak harus berupa produk manufaktur, tetapi bisa juga ekspor jasa seperti jasa konstruksi.


Jika perusahaan Indonesia bisa masuk lebih dulu ke negara nontradisional, maka Indonesia bisa mendapatkan tempat yang lebih kompetitif.


"Saya berharap perusahaan di Indonesia semakin meningkatkan kemampuan untuk hadir di pasar internasional," ujarnya.

Pemerintah telah memberikan dukungan untuk pembiayaan ekspor melalui Keputusan Menteri Keuangan (KMK) Nomor 787/KMK.08/2017 sebagaimana telah diubah dalam KMK Nomor 1/KMK.08/2019 tentang Penugasan Khusus kepada LPEI untuk Mendorong Ekspor ke Negara Kawasan Afrika, Asia Selatan, dan Timur Tengah.

Salah satu perusahaan yang memanfaatkan fasilitas tersebut adalah perusahaan konstruksi Wika.

Hari ini, LPEI dan Wika menandatangani perjanjian Kredit Modal Kerja Ekspor melalui National Interest Account (NIA) Proyek Pembangunan 3.950 unit rumah bersubsidi (logement) di Aljazair.


Proyek tersebut terdiri dari pembangunan 1.700 unit rumah di Baraki dan El-Harrach wilayah Algier dan 2.250 unit rumah di Ain Defla dan Khemis Miliana di wilayah Bilda.

Dengan difasilitasi oleh LPEI, Wika juga menggandeng PT Intergra Indocabinet Tbk dalam pengadaan furnitur untuk proyek pembangunan logement tersebut.

"Ini merupakan bentuk ekspor jasa konstruksi ke negara yang dianggap non tradisional. Dengan Aljazair kita memiliki neraca perdagangan yang negatif karena Aljazair merupakan negara pengekspor migas yang cukup penting di dunia," ujarnya.

Direktur Eksekutif Sinthya Roesly mengungkapkan pembiayaan ekspor melalui skema NIA merupakan upaya untuk mengerek ekspor. Kemudian, kerja sama juga dapat meningkatkan transaksi perdagangan kedua negara di bidang infrastruktur dan konstruksi, khususnya di negara tradisional.


"Dukungan yang diberikan LPEI kepada WIKA merupakan salah satu bentuk strategi untuk memasarkan produk industri strategis nasional ke pasar prospektif," ujar Sinthya.

Di tempat yang sama, Direktur Wika Destiawan Soewarjono mengungkapkan dukungan kredit dari LPEI dapat meminimalisir risiko ketika perusahaan memasuki negara baru. Dampaknya perusahaan lebih percaya diri untuk berkompetisi pada lelang berskala global.

Kerja sama kedua instansi juga menunjukkan dukungan pemerintah kepada sektor jasa konstruksi nasional untuk meningkatkan daya saing di pasar global.

"Selain itu, (kerja sama) ini merupakan langkah konkrit untuk meningkatkan ekspor dan investasi ke negara non tradisional melalui pemanfaatan dana NIA, termasuk melalui pemanfaatan peluang bisnis turunan," ujar Destiawan.

[Gambas:Video CNN]

Destiawan menyebutkan total nilai proyek pembangunan logement di Aljazair mencapai US$100 juta atau berkisar Rp1,4 triliun untuk jangka waktu dua tahun. Besaran pembiayaan yang disokong oleh LPEI sebesar Rp187,7 miliar.

Sebanyak 600 orang pekerja asal Indonesia terlibat dalam proyek pembangunan tersebut dan diperkirakan akan meningkat hingga 1.343 orang. (sfr/lav)