Cerita Dosen ITB Rintis Bisnis Teknologi Pemroses Biofuel

CNN Indonesia | Kamis, 02/05/2019 03:34 WIB
Cerita Dosen ITB Rintis Bisnis Teknologi Pemroses Biofuel Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) Subagjo dan Dr IGBN Makertihartha dari Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis ITB. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Bandung, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin mendorong pengembangan riset dan inovasi di Indonesia. Hal itu dilakukan sebagai senjata Indonesia menghadapi revolusi industri 4.0.

Namun, upaya pengembangan riset dan inovasi tidaklah mudah. Setidaknya itu yang dialami oleh Guru Besar Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung (ITB) Subagjo dalam merintis industri katalis di Indonesia.

Katalis merupakan bahan yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia. Bahan ini merupakan kunci teknologi proses yang digunakan pada berbagai industri mulai dari kimia, petrokimia, pengilangan minyak dan gas, termasuk teknologi energi terbarukan berbasis biomassa dan minyak nabati.


Sejak menjadi mahasiswa di ITB pada 1971, Subagjo mulai tertarik pada reaksi kimia dan katalis. Ketertarikannya terus dipupuk hingga ia menyelesaikan pendidikan doktor di Universite de Poitier di Perancis pada 1981.


Setelah kembali, ia mulai meneliti lebih dalam tentang katalis bersama tim Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis ITB (TRKK-ITB) pada 1982. Dengan keterbatasan, tim mulai merakit mesin untuk meneliti katalis sembari mencari formula katalis yang tepat sesuai kebutuhan.

Menurut Subagjo, orang Indonesia cenderung lebih mempercayai teknologi dari luar dibandingkan teknologi yang dihasilkan oleh orangnya sendiri. Kondisi ini membuat para inovator dalam negeri harus bekerja keras untuk membuktikan bahwa produknya tak kalah saing.

"Tahun 1996 saya baru mendapatkan tantangan dari industri. Sebelum-sebelumya, industri belum ada yang mau," ujar Subagjo kepada CNNIndonesia.com di kampus ITB, Selasa (30/4).

Hampir dua dekade kemudian, pada 2011, TRKK-ITB berhasil memproduksi katalis komersial pertama yang kemudian disebut dengan Katalis Merah Putih.

"Dulu, cita-cita kami cuma asal sedikit lebih buruk dibandingkan katalis impor juga enggak papa tetapi katalis pertama kami itu lebih bagus dari impor," ujarnya.
Ilustrasi produk katalis. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Beberapa katalis pengolahan minyak bumi yang dikembangkan TRKK-ITB bersama PT Pertamina (Persero) telah digunakan oleh perseroan di beberapa kilangnya.

Bahkan, sejumlah katalis yang dihasilkan berhasil membantu proses pengolahan minyak kelapa sawit menjadi bensin nabati, diesel nabati, hingga avtur nabati dalam skala kecil. Proses pengolahan minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati tersebut dikembangkan tim bersama Pertamina.

Produk katalis dan proses pengolahan yang dikembangkan TRKK-ITB akan digunakan Pertamina dalam memproduksi produk bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar.

Subagjo berkisah perjuangan ia dan timnya tidak akan berhasil tanpa dukungan pemerintah melalui bantuan dana penguatan inovasi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi.

Tim juga mendapatkan bantuan dana dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk merancang dan membangun pabrik pilot untuk produksi bensin nabati dari minyak sawit berkapasitas 10 hingga 20 liter per hari di kampus.


Tak kalah penting, peran serta industri yang memiliki semangat merah putih dalam mendukung inovasi juga diperlukan. Dengan demikian, hasil penelitian bisa digunakan oleh industri. Dalam hal ini, Pertamina dan sejumlah perusahaan lain yang mempercayai kualitas produk katalis yang dihasilkan.

"Mitra industri itu penting. Kalau sudah dapat tapi tidak bisa diuji coba untuk skala besar untuk apa? Dulu itu, susahnya tidak ada mitra industri," ujarnya.

Ke depan, pengembangan industri katalis di Indonesia masih panjang. Subagjo masih ingin mewujudkan cita-cita untuk bisa membangun pabrik katalis buatan anak bangsa di Indonesia. Cita-cita yang kemungkinan akan terwujud tahun depan dengan dukungan PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Rekayasa Industri, dan Pertamina.

Selain itu, untuk mendukung ekosistem industri, TRKK-ITB juga tengah merancang dan mengembangkan unit produksi bensin nabati berkapasitas 100 liter per hari dan 8 ton per jam. Unit berkapasitas besar ini tengah diupayakan TRKK-ITB bersama perusahaan pelat merah PT Energi Manajemen Indonesia. (sfr/agi)