Pabrik Katalis Ditargetkan Beroperasi Mulai 2020

CNN Indonesia | Rabu, 01/05/2019 05:21 WIB
Pabrik Katalis Ditargetkan Beroperasi Mulai 2020 Ilustrasi Pabrik Katalis. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pabrik katalis hasil karya anak bangsa pertama ditargetkan beroperasi pada 2020. Pabrik ini merupakan hasil kemitraan antara Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalis Institut Teknologi Bandung (TRKK-ITB) dan sejumlah mitra perusahaan.

Sebagai informasi, katalis merupakan bahan yang dapat mempercepat dan mengarahkan reaksi kimia. Bahan ini merupakan kunci teknologi proses, termasuk pada pemrosesan bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit.

Guru Besar Fakultas Teknologi Industri ITB Subagjo mengungkapkan pendirian pabrik merupakan bagian dari pembangunan industri katalis di Indonesia. Saat ini, dalam skala industri, seluruh kebutuhan katalis di Indonesia harus diimpor dengan nilai mencapai US$500 juta per tahun.


"TRKK-ITB bekerja sama dengan PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Pertamina, dan PT Rekayasa Industri membangun pabrik katalis nasional sehingga tidak tergantung pada negara lain," ujar Subagjo dalam paparannya kepada Forum Wartawan Kemenko Kemaritiman di Bandung, Selasa (30/4).


Subagjo tak merinci besaran investasi yang diperlukan. Namun, ia membocorkan pabrik akan dibangun di kawasan industri Cikampek, Jawa Barat dengan kapasitas produksi mencapai 3 ton per hari. Peletakan batu pertama ditargetkan bisa dimulai pada 17 Agustus 2019.

"Sekarang sudah pada tahap penyusunan DED (Detail Engineering Design) pabrik," ujarnya.

Dengan memiliki pabrik katalis sendiri, Indonesia bisa mandiri dalam bidang teknologi proses dan menciptakan ketahanan energi. Salah satunya melalui pengembangan energi terbarukan melalui minyak kelapa sawit.

Hal ini menjadi relevan mengingat Indonesia masih harus mengimpor minyak mentah sekitar 360 ribu barel per hari (bph) dan bahan bakar minyak (BBM) sekitar 400 ribu bph. Di saat yang sama, minyak kelapa sawit Indonesia juga mendapatkan tekanan dari negara barat.


Artinya, pemanfaatan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar nabati akan membantu mengurangi beban impor bahan bakar fosil dan di saat bersamaan meningkatkan permintaan minyak kelapa sawit di Indonesia.

TRKK ITB telah mengembangkan beberapa katalis untuk pengolahan minyak mentah dan proses produksi bahan bakar nabati dari minyak sawit. Pengembangan ini dilakukan sejak 1982. Pada 2011, TRKK-ITB berhasil memproduksi katalis komersial pertama yang kemudian disebut dengan Katalis Merah Putih.

Beberapa katalis pengolahan minyak bumi yang dikembangkan TRKK- ITB bersama PT Pertamina (Persero) telah dikomersialkan dan telah digunakan di berbagai kilang milik Pertamina.

Hasilnya, Pertamina bisa mengubah minyak kelapa sawit menjadi bensin nabati yang berkualitas tinggi dengan oktan di atas 110. Perolehan bensin dari proses tersebut adalah separuh dari minyak kelapa sawit yang diolah.


Selain itu, proses juga menghasilkan produk sampingan berupa LPG nabati sebanyak 20 persen dari minyak kelapa sawit. Struktur kimia LPG nabati ini sama dengan LPG yang berasal dari fosil.

Karena oktannya yang tinggi, bensin nabati dapat dipakai untuk campuran bensin dengan oktan yang lebih rendah sehingga tercipta produk bensin dengan kadar oktan yang diinginkan.

Pabrik pilot produksi bensin nabati saat ini telah dikelola oleh TRKK-ITB. Pabrik yang didanai oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDB-KS) ini berkapasitas 10 hingga 20 liter per hari.

Selain itu, TRKK ITB juga telah mengembangkan katalis dan proses pembuatan diesel dari minyak kelapa sawit dan avtur nabati dari minyak inti kelapa sawit. Setelah melaksanakan uji coba pilot selama setahun, katalis ini telah mencapai tahap komersialisasi.

[Gambas:Video CNN]

Diesel yang dihasilkan memiliki cetane number di atas 80 atau jauh di atas cetane number minyak Solar yang dijual di pasar yang hanya memiliki cetane number 48. Sementara, titik beku avtur nabati yang dihasilkan juga lebih rendah dari -70 derajat Celcius sehingga bisa digunakan dengan aman di pesawat.

Sama dengan pemrosesan bensin nabati, hasil samping dari pemrosesan diesel dan avtur nabati adalah LPG nabati.

Lebih lanjut, Subagjo mengungkapkan nantinya pabrik katalis "merah-putih" tidak hanya memproduksi katalis untuk industri pengilangan minyak. Namun, cakupan produk katalis lebih luas dan bisa digunakan untuk industri kimia dan petrokimia, dan industri oleokimia di Indonesia.

"Kalau ingin membuat pabrik katalis kami harus punya beberapa katalis yang siap diproduksi. Kalau hanya satu produk, akan banyak kapasitas yang menganggur," ujarnya. (sfr/lav)