Ekspor Minyak Rusia Setop Sementara, Harga Brent Tembus US$75

CNN Indonesia | Jumat, 26/04/2019 07:30 WIB
Ekspor Minyak Rusia Setop Sementara, Harga Brent Tembus US$75 Ilustrasi minyak dunia. (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah Brent menembus level US$75 per barel untuk pertama kalinya dalam hampir enam bulan terakhir, pada perdagangan Kamis (25/4), waktu Amerika Serikat (AS).

Penguatan disebabkan oleh penghentian sementara ekspor minyak mentah Rusia ke Eropa akibat kekhawatiran terhadap kualitas. Di saat yang sama, AS juga tengah bersiap untuk memperketat pengenaan sanksi ke Iran.

Dilansir dari Reuters pada Jumat (26/4), harga minyak mentah Brent menguat US$0,43 menjadi US$75 per barel. Selama sesi perdagangan berlangsung, harga Brent sempat terdongkrak ke level US$75,6 per barel, tertinggi sejak 31 Oktober 2018.


Sementara itu, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) merosot US$0,08 menjadi US$65,81 per barel, setelah menyentuh level US$66,28 per barel selama sesi perdagangan berlangsung.


Polandia dan Jerman menghentikan sementara impor minyak dari Rusia yang melalui pipa Druzhba akibat dugaan kontaminasi.

Berdasarkan sumber dari pelaku pasar dan penghitungan Reuters, saluran pipa tersebut dapat mengirim hingga 1 juta barel per hari (bph) atau sekitar 1 persen dari permintaan minyak mentah global. Aliran sebanyak 700 ribu bph dihentikan sementara.

Rusia, eksportir minyak mentah terbesar kedua di dunia, menyatakan bakal memompa bahan bakar bersih ke Eropa melalui pipa tersebut mulai 29 April 2019.

Direktur Perdagangan Berjangka Mizuho Bob Yawger mengungkapkan penguatan Brent memang tak lepas dari pemberitaan terkait komtaminasi. Sementara, harga WTI lebih menggambarkan kondisi harga minyak sebenarnya.


"Sampai titik tertentu, kenaikan persediaan (minyak AS) kemarin yang cukup besar, ditambah peningkatan untuk pertama kalinya dalam dua pekan terakhir di Cushing, telah memberikan tekanan kepada WTI meskipun harganya tak jauh dari level tertinggi," ujar Yawger.

Berdasarkan data pemerintah AS, persediaan minyak mentah AS pekan lalu menanjak 5,5 juta barel menjadi 460,6 juta barel, level tertingginya sejak Oktober 2017. Seiring dengan itu, stok minyak mentah di hub pengiriman WTI di Cushing, Oklahoma, naik 460 ribu barel.

Pekan ini, AS menyatakan bakal menghentikan pengecualian yang diberikan kepada sejumlah negara untuk tetap dapat membeli minyak dari Iran. Produsen minyak terbesar ketiga Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) itu telah menerima sanksi dari AS selama lebih dari enam bulan terakhir di mana minyaknya dilarang untuk diekspor.

Namun, sejumlah negara tetap diberikan pengecualian sementara sanksi tersebut sehingga bisa tetap membeli minyak Iran hingga pekan ini, termasuk China dan India. Mulai Mei, negara-negara tersebut harus menghentikan impor minyak dari Iran atau menghadapi sanksi dari AS.


Keputusan tersebut bersamaan dengan masih dijalankannya kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan oleh OPEC dan sekutunya, termasuk Rusia, sejak awal tahun. Kebijakan pemangkasan sebesar 1,2 juta bph tersebut bertujuan untuk mendongkrak harga.

Pemangkasan tersebut juga dilakukan untuk mengimbangi melonjaknya produksi minyak mentah AS. Data pemerintah AS mencatat produksi minyak Negeri Paman Sam mencapai 12,2 juta bph sehingga menjadikan AS sebagai produsen minyak terbesar di dunia.

Perwakilan Khusus AS untuk Iran merangkap Penasihat Senior Kementerian Luar Negeri AS Brian Hook menyatakan pasar masih memiliki banyak pasokan untuk meredakan dampak dari transisi hilangnya ekspor minyak Iran dan menjaga stabilitas harga.

Lembaga Konsultan Rystad Energi menilai Arab Saudi dan sekutunya dapat mengganti pasokan minyak mentah Iran yang akan hilang dari pasar.

[Gambas:Video CNN] (sfr/lav)