Porsi Manufaktur 20 Persen, RI Diklaim Sejajar dengan Jerman

CNN Indonesia | Selasa, 07/05/2019 13:43 WIB
Kontribusi industri manufaktur terhadap PDB kuartal I 2019 disebut meningkat jadi 20,07 persen atau naik dari sebelumnya 19,86 persen. Ilustrasi aktivitas industri manufaktur. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Perindustrian mengklaim kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2019 meningkat tipis menjadi 20,07 persen. Sepanjang 2018, kontribusinya hanya sebesar 19,86 persen.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan sumbangsih industri manufaktur terhadap PDB menempati peringkat kelima di antara 20 negara dengan ukuran ekonomi besar, atau biasa disebut G-20. Bahkan, ia menyebut posisi Indonesia setara dengan Jerman yang memiliki kontribusi industri terhadap PDB sebesar 20,6 persen.

"Sementara itu posisi teratas ditempati China dengan angka 28,8 persen, disusul Korea Selatan 27 persen, dan Jepang 21 persen," jelas Airlangga dikutip dari keterangan pers, Selasa (7/5).


Ia menuturkan, saat ini tidak ada negara di dunia yang memiliki kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB di atas 30 persen. Rata-rata, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB berada di angka 17 persen, seperti Meksiko, India, Italia, Spanyol, Amerika Serikat, Rusia, Brazil, Perancis, Kanada, dan Inggris.


"Melalui sumbangsih sektor manufaktur yang cukup besar, tidak tepat kalau Indonesia dikatakan sebagai negara yang mengalami deindustrialisasi," imbuh dia.

Lebih lanjut, Airlangga juga semringah setelah industri pengolahan non-migas tumbuh 4,8 persen pada kuartal I 2019, atau membaik dibanding capaian 2018 sebesar 4,77 persen.

Adapun, sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 18,98 persen, disusul industri pengolahan tembakau yang tumbuh 16,1 persen, furnitur tumbuh 12,89 persen, dan industri kimia yang tumbuh 11,53 persen.

Kemenperin masih optimistis memasang target pertumbuhan industri non-migas sebesar 5,4 persen pada tahun ini.


"Industri manufaktur merupakan tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, menjadi sektor andalan dalam memacu pemerataan terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat yang inklusif," tutur Airlangga.

Di sisi lain, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan pertumbuhan industri manufaktur sejatinya masih dalam tahap yang membahayakan. Sebab, trennya kian menunjukkan pelemahan.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan pada kuartal I tumbuh 3,86 persen atau turun dibanding kuartal I 2019 sebesar 4,6 persen. Kemudian, jika menilik pada industri non-migas saja, pertumbuhan pada kuartal I sebesar 4,8 persen lebih rendah dibanding kuartal I tahun lalu yang mencapai 5,08 persen.

"Ini konsisten lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional, sehingga lemahnya growth manufaktur mengancam kualitas pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang," ujar Bhima kepada CNNIndonesia.com, Selasa (7/5).

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)