Harga Minyak Dunia Menguat Akibat Stok AS Merosot

CNN Indonesia | Kamis, 09/05/2019 07:01 WIB
Harga Minyak Dunia Menguat Akibat Stok AS Merosot Ilustrasi kilang minyak. (ANTARA FOTO/Idhad Zakaria).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia menguat sekitar 1 persen pada perdagangan Rabu (8/5), waktu Amerika Serikat (AS). Penguatan dipicu oleh turunnya stok minyak mentah AS yang di luar dugaan. Namun, kekhawatiran investor terhadap prospek permintaan energi akibat eskalasi perang dagang antara AS-China membatasi kenaikan harga minyak.

Dilansir dari Reuters, Kamis (9/5), harga minyak mentah berjangka Brent naik US$0,49 atau 0,7 persen menjadi US$70,37 per barel. Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,72 atau 1,2 persen menjadi US$62,12 per barel.

Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan stok minyak mentah AS merosot 4 juta barel pada pekan lalu. Realisasi tersebut berlawanan dengan proyeksi sejumlah analis yang memperkirakan stok minyak mentah AS bakal turun 1,2 juta barel.


"Data minyak mentah menghilangkan pertimbangan harga bakal turun," ujar Pimpinan Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch.


Sejauh ini, harga minyak telah menguat lebih dari 30 persen seiring proyeksi ketatnya pasokan global. Hal itu menyusul pengenaan sanksi AS terhadap Iran dan Venezuela serta kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia.

Seorang diplomat senior AS menyatakan AS tidak akan memberikan pengecualian terhadap negara manapun untuk tetap dapat membeli minyak dari Iran tanpa harus menghadapi sanksi AS.

Pada Rabu (8/5) lalu, AS juga mengancam bakal menjatuhkan lebih banyak sanksi terhadap Iran dalam waktu dekat serta memberikan peringatan kepada Eropa untuk tidak berbisnis dengan negara tersebut.

Di sisi lain, harga minyak mendapatkan tekanan pada pekan ini akibat eskalasi tensi antara AS -China. AS menyatakan bakal mengerek tarif dari 10 persen menjadi 25 persen terhadap impor produk dari China senilai US$20 miliar. Kenaikan tersebut akan berlaku efektif mulai Jumat (10/5) ini.

Presiden AS Donald Trump telah mengeluarkan ancaman tersebut setelah China mundur dari kesepakatan dagang. Namun demikian, pada Rabu (8/6) lalu, Juru Bicara Gedung Putih Sarah Sander menyatakan AS telah menerima indikasi dari China bahwa mereka ingin mencapai kasepakatan.


Wakil Perdana Menteri China Liu He akan terbang ke Washington pekan ini untuk melanjutkan pembahasan kesepakatan dagang yang akan berlangsung dalam 2 hari.

Analis Price Futures Group Phil Flynn mengungkapkan pasar ketakutan jika perang dagang berlanjut akan menekan perekonomian global yang pada akhirnya akan menggerus permintaaan minyak.

Data kepabeanan China menunjukkan impor minyak mentah China pada April 2019 lalu mencapai 10,6 juta barel per hari (bph). Tak ayal, saat ini, China merupakan importir minyak mentah terbesar di dunia.
[Gambas:Video CNN]
Kemudian, Arab Saudi diperkirakan akan tetap menjaga ekspornya tetap di bawah 7 juta bph pada Juni 2019 mendatang. Sumber Reuters menyatakan produksi Arab Saudi akan tetap berada di bawah kuota pemangkasan yang disepakati dalam kesepakatan pemangkasan produksi OPEC.

Menteri Energi Azerbaijan Parviz Shahbazov menyatakan ia telah menerima komitmen dari Arab Saudi, pimpinan de facto OPEC, untuk tidak mengambil keputusan sepihak terkait kesepakatan pemangkasan produksi hingga pertemuan kelompok kartel tersebut pada Juni mendatang.

Sementara itu, Goldman Sachs dalam catatannya mengungkapkan masih buramnya kondisi fundamental di pasar minyak membuat volatilitas harga Brent akan tetap tinggi dalam beberapa bulan ke depan dengan bergerak di kisaran US$70 hingga US$75 per barel. (sfr/agi)