Freeport Ingin Tambah Kuota Izin Ekspor Sebelum Akhir Tahun

CNN Indonesia | Kamis, 09/05/2019 15:44 WIB
Freeport Ingin Tambah Kuota Izin Ekspor Sebelum Akhir Tahun Ilustrasi Freeport. (Dok. PT Freeport Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Freeport Indonesia bakal mengajukan penambahan kuota izin ekspor tembaga. Rencananya, pengajuan tersebut akan dilakukan sebelum akhir tahun ini.

Sebelumnya, pemerintah telah memberikan rekomendasi izin ekspor tembaga sebanyak 198 ribu wet ton pada 8 Maret 2019 lalu dan berlaku selama setahun. Kuota tersebut anjlok 84 persen dari rekomendasi tahun lalu yang mencapai 1,24 juta wet ton.

Juru Bicara Freeport Indonesia Riza Pratama mengungkapkan ekspor tambahan berasal dari sisa stok tahun lalu yang berasal dari tambang terbuka. Namun, ia belum bisa membocorkan berapa banyak penambahan kuota ekspor yang diminta.


"Banyaknya stok masih dihitung," ujar Riza di sela acara buka bersama dengan awak media di Jakarta, Rabu (8/5) malam.


Dalam paparan kinerja keuangan Freeport -McMoran untuk kuartal I 2019 yang diunggah pada situs resminya, Executive Vice President & Chief Financial Officer Freeport-McMoran Kathleen Quirk memperkirakan tambahan izin ekspor yang akan diajukan kepada pemerintah Indonesia berkisar 40 ribu ton konsentrat.

Terkait proyeksi angka tersebut, Riza belum bisa memberikan konfirmasi. Namun, kemungkinan besaran tambahan ekspor yang akan diajukan perusahaan tak jauh dari perkiraan induk usahanya.

Riza belum bisa memastikan kapan perusahaan akan mengajukan tambahan ekspor tersebut. Pasalnya, perusahaan juga harus menyesuaikan dengan permintaan ekspor negara lain.

"Kami sedang mempersiapkan (pengajuan)," ujarnya


Riza memastikan tambahan kuota ekspor tersebut bisa diserap oleh pasar internasional. Sebagai catatan, selama ini, konsentrat dari tambang Freeport di Indonesia telah diekspor ke sejumlah negara di antaranya Jepang, China, dan Korea Selatan.

"Permintaan tembaga selalu ada terus," ujarnya.

Lebih lanjut, untuk tetap dapat melakukan kegiatan ekspor, Riza memastikan pelaksanaan proyek pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) perusahaan terus berlanjut. Per akhir Februari 2019 lalu, progres proyek smelter kedua perusahaan ini baru 3,86 persen. Perusahaan menargetkan smelter akan beroperasi pada 2022.
[Gambas:Video CNN] (sfr/agi)