Penurunan pagi ini terjadi setelah pemerintah resmi menurunkan tarif batas atas (TBA) tiket pesawat mulai dari 12 persen hingga 16 persen. Pemerintah mulai memberlakukan aturan baru pada 15 Mei 2019.
Analis Valbury Sekuritas Suryo Narpati mengatakan penurunan tarif batas atas akan berpengaruh untuk neraca keuangan Garuda Indonesia. Pengaruh khususnya akan terjadi pada pendapatan perusahaan dari penjualan tiket pesawat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Naik atau turunnya proyeksi pendapatan yang akan datang mempengaruhi valuasi saham emiten tersebut, sehingga hal ini yang akan berpotensi membuat saham ini bergerak volatile," tutur Suryo kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/5).
"Frekuensi penerbangan seperti apa, detil pendapatan per rute juga berbeda. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan," terang Suryo.
Sementara, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pelemahan saham Garuda Indonesia seharusnya tidak signifikan. Pasalnya, kinerja perusahaan tetap akan terjaga ke depannya.
[Gambas:Video CNN]
"Tarif batas atas turun ke semua pesawat, jadi rata-rata tiket Garuda tetap paling mahal. Meskipun mahal, Garuda kan punya pasar sendiri, Garuda punya imej tersendiri terhadap penumpang setianya," papar Nico.
Lagipula, sambungnya, koreksi harga saham Garuda Indonesia tak semata-mata karena kebijakan baru pemerintah terkait harga tiket. Saham perusahaan itu ikut merosot sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang meradang.
"IHSG juga lagi melempem khususnya hari ini akibat kenaikan tarif impor China oleh Amerika Serikat," jelas Nico.
RTI Infokom mencatat IHSG pagi ini terlihat anjlok 1,1 persen atau 67,98 poin ke level 6.067. Pelaku pasar asing terlihat jual bersih (net sell) sebesar Rp128,1 miliar di all market.
Sementara, saham Garuda Indonesia sudah turun lebih dari 7 persen dalam satu bulan terakhir. Pada pertengahan April kemarin harga saham perusahaan masih bertengger di area Rp400 per saham. (aud/agt)