Pada hari ini, Selasa (14/5) siang, kurs rupiah berada di posisi Rp14.453 per dolar AS atau melemah 0,21 persen dari posisi kemarin. Padahal, rupiah sempat stabil di kisaran Rp13.900 per dolar AS pada awal Februari 2019. Namun, sejak akhir April lalu, mata uang Garuda perlahan-lahan terus melemah dari mata uang Negeri Paman Sam.
"Tadinya agak tenang, sudah mendekati Rp13.900 sekian, sekarang lebih dinamis lagi. Ya tidak mudah juga mengharapkan undervalue itu hilang," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (14/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada tekanan baru. Market (pasar) itu kan tidak seluruhnya rasional, kadang ada sentimen-sentimennya," ungkapnya.
"Tendensi melambatnya akan muncul perlahan-lahan karena dia semakin lambat, tapi tidak membuat gejolak yang tajam. Ya memang situasinya lebih dinamis, tapi tidak apa-apa, memang dunia sedang bergerak," imbuh dia.
Sayangnya, Darmin belum ingin memberi gambaran seperti apa langkah yang sekiranya akan dilakukan pemerintah untuk mengatasi tekanan pada nilai tukar rupiah. Di sisi lain, ia hanya mengatakan bahwa pemerintah akan terus memantau kondisi ekonomi global dan mengantisipasinya dengan menguatkan ekonomi domestik.
[Gambas:Video CNN]
Caranya, dengan mendorong lebih banyak realisasi investasi, baik domestik maupun asing. Tujuannya, agar industri di semua sektor bisa mendapat suntikan modal dan roda produksi bergerak lebih kencang. Khususnya, industri berbasis ekspor dan pariwisata.
"Kami lihat ada beberapa daerah yang pas untuk mendorong pariwisata, industri atau agrobisnis," tandasnya. (uli/bir)