Setor Rp300 Miliar, BRI Genggam 19 Persen Saham LinkAja

CNN Indonesia | Kamis, 16/05/2019 09:37 WIB
Setor Rp300 Miliar, BRI Genggam 19 Persen Saham LinkAja Ilustrasi Linkaja. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI akan menyetor modal sebesar Rp300 miliar kepada PT Fintek Karya Nusantara alias Finarya sebagai pengelola aplikasi pembayaran nontunai milik pemerintah, LinkAja. Dengan modal itu, maka perseroan akan menggenggam 19 persen saham LinkAja.

"Sampai dengan saat ini kami masih tetap di posisi yang sama, kami 19 persen (saham LinkAja) more or less (kurang lebih modal yang disetor) Rp300 miliar," kata Direktur Utama BRI Suprajarto di kantornya, Rabu (15/5).

Ia menuturkan pemerintah telah mengalokasikan porsi saham bagi perbankan plat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara (Himbara). Selain BRI, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk juga akan menggenggam saham LinkAja.


Selain Himbara, saham LinkAja juga bakal dimiliki oleh PT Pertamina (Persero) dan PT Telekomunikasi Seluler (Persero) Tbk atau Telkomsel.


Kendati demikian, alokasi ini bisa berubah. Pasalnya, ia menuturkan jika Menteri BUMN Rini Soemarno menghendaki jika beberapa perusahaan plat merah lainnya ikut bergabung sebagai pemegang saham LinkAja.

Perusahaan yang tengah dikaji sebagai pemilik saham LinkAja selain Himbara merupakan perusahaan BUMN yang bergerak di bidang angkutan, yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).

"Kami akan sesuai dengan apa yang dicanangkan ibu menteri (Menteri BUMN Rini Soemarno). Ke depan akan dibagi lagi dengan BUMN terkait seperti KAI, Jasa Marga, dan sebagainya," jelasnya.

Sebelumnya, Deputi Jasa Keuangan, Survei dan Konsultasi Kementerian BUMN Gatot Trihargo memastikan peluncuran LinkAja akan dilakukan pada 23 Juni 2019 mendatang. Rilis aplikasi ini telah mundur dari jadwal semula pada Minggu (5/5) silam.

[Gambas:Video CNN]

Ia juga membeberkan bahwa pemerintah tengah mempertimbangkan keikutsertaan KAI dan Jasa Marga sebagai pemegang saham LinkAja.

Akuisisi Asuransi Umum Rampung Juni

BRI menargetkan proses akuisisi perusahaan asuransi umum selesai pada akhir Juni 2019 mendatang.

Suprajarto menuturkan perkembangan proses akuisisi asuransi umum tersebut masih sesuai dengan jadwal yang dirancang perseroan. Perseroan berharap proses akuisisi dapat diselesaikan dalam kurun waktu dua bulan. Sayangnya, ia belum membocorkan nama perusahaan asuransi umum itu.

"Sekarang bulan Mei, mungkin bulan Juni, Juni akhir lah. Kalau bisa lebih cepat ya lebih cepat," katanya.

Ia menuturkan proses akusisi telah memasuki tahapan due diligence dengan pihak asuransi umum. Untuk akusisi ini, perseroan menyiapkan dana lebih dari Rp1 triliun.

"Sudah due dilegence, sudah hampir tuntas. Tinggal kami negosiasi harganya," paparnya.


Sejalan dengan itu, perseroan berencana untuk menerbitkan surat utang (obligasi) sebesar Rp5 triliun. Rilis obligasi ini ditargetkan dapat dilaksanakan pada semester II 2019.

Dana yang dihimpun dari obligasi itu akan digunakan perseroan untuk merealisasikan target bisnis yang telah ditetapkan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) tahun ini.

"Itu untuk ekspansi kredit, untuk yang jatuh tempo, banyak lah," katanya.

Pada 2018 lalu, BRI berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp32,4 triliun. Realisasi ini meningkat 11,6 persen dari posisi 2017 lalu yang sebesar Rp29 triliun.


Dari laba tersebut, perseroan sepakat untuk menggunakan setengahnya sebagai dividen kepada pemegang saham atau sebesar Rp16,17 triliun. Sedangkan sisanya digunakan sebagai saldo modal ditahan untuk kepentingan ekspansi bisnis perusahaan.

(ulf/lav)