BI Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan Tembus 3 Persen

CNN Indonesia | Kamis, 16/05/2019 17:53 WIB
BI Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan Tembus 3 Persen BI memproyeksi defisit transaksi berjalan bisa tembus 3 persen terhadap PDB. Angka ini jauh melampaui proyeksi sebelumnya, yakni 2,5 persen. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) memproyeksi defisit transaksi berjalan bisa tembus 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya, yakni 2,5 persen dari PDB.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan tantangan ekspor Indonesia di sisa tahun ini cukup marak. Pertama, BI melihat pertumbuhan ekonomi China diperkirakan masih belum pulih. Walhasil, permintaan impor China atas ekspor Indonesia juga akan berkurang.

Kedua, eskalasi perang dagang antara AS dan China yang memanas disebut-sebut akan melemahkan ekonomi AS. Jika sudah demikian, ekspor ke negara adidaya juga bisa tertahan, apalagi sebagian besar ekspor merupakan barang manufaktur.

"Di seluruh dunia, kami tidak bisa menafikan bahwa perlambatan ekonomi dunia dan perang dagang ini berdampak ke seluruh negara. Bahwa sumber pertumbuhan dari ekspor ini semakin sulit dijadikan andalan. Ini sebabnya kami memandang defisit transaksi berjalan jadi 2,5 persen hingga 3 persen, dari semula kami perkirakan 2,5 persen," ujarnya, Kamis (16/5).


Sejatinya, Perry menilai kinerja ekspor Indonesia ke wilayah lain sudah berkembang dengan baik. Hanya saja, nilai ekspornya tidak sebesar kiriman Indonesia ke dua negara tersebut.

BPS mencatat ekspor Indonesia ke China mengambil 14,85 persen dari total ekspor Indonesia antara Januari hingga April 2019, sementara AS mengambil posisi kedua dengan porsi mencapai 11,32 persen.

Untuk itu, ia menilai pemerintah perlu serius untuk mengurangi impor agar defisit transaksi berjalan tidak semakin lebar. Hal itu bisa dimulai dengan melaksanakan kebijakan yang ada sebelumnya dengan lebih insentif, seperti menyortir proyek infrastruktur berkonten impor tinggi dan menambah pencampuran 20 persen biodiesel terhadap BBM jenis Solar, atau biasa disebut B-20.

"Langkah itulah yang menghindari defisit yang lebih tinggi lagi. Bukan berarti kami tidak berusaha, tapi memang kondisi global cukup berat," kata Perry.


Sepanjang kuartal I lalu, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar US$7 miliar atau 2,6 persen dari PDB. Angka ini melebar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 2,01 persen dari PDB.

Pada kuartal II, Perry memperkirakan defisit transaksi berjalan akan melebar karena tren musiman. Biasanya, Penanaman Modal Asing (PMA) sudah mulai membayar dividen atas operasinya di Indonesia pada kuartal II, di mana dana itu akan direpatriasi ke negara tempat PMA berasal.

Hal ini akan mempengaruhi komponen neraca pendapatan primer dan mempengaruhi defisit transaksi berjalan.

"Tapi kami harap defisit transaksi berjalan akan turun di kuartal III dan IV," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]


(glh/bir)