Senyum dan Sedu Warga Hadapi Penurunan Harga Tiket Pesawat

CNN Indonesia | Kamis, 23/05/2019 10:55 WIB
Senyum dan Sedu Warga Hadapi Penurunan Harga Tiket Pesawat Ilustrasi pemesanan tiket pesawat. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nizam (28) mengaku menyesal. Pria yang berprofesi sebagai akuntan ini mengaku membeli tiket pesawat yang lebih mahal untuk pelesiran di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Pada April lalu, ia membeli tiket Garuda Indonesia relasi Jakarta-Lombok dengan banderol Rp1,9 juta sekali jalan untuk keberangkatan 14 Juli 2019 mendatang. Nizam khawatir, harga tiket pesawat akan melambung lagi jika ia menunda pembelian tiketnya. Maka itu, tanpa pikir panjang, ia bergegas mengunjungi situs agen perjalanan daring.

Penyesalan muncul setelah ia memeriksa harga tiket pesawat di agen yang sama, ternyata tarif tiket malah melandai jadi Rp1,6 juta. Wajah Nizam langsung berubah masam.


"Waktu itu dengar dari teman kalau katanya kan ada potensi tarif pesawat turun 14 - 16 persen. Baru saja kemarin cek di tanggal yang sama, eh harganya turun Rp300 ribu. Agak menyesal sih kenapa belinya tidak sekarang saja," jelas Nizam kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/5).


Harga tiket yang dicek Nizam merupakan imbas dari penurunan Tarif Batas Atas (TBA) pesawat terbang sebesar 12 - 16 persen yang tertuang di dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Dengan demikian, harga tiket pesawat seharusnya bisa lebih murah. Tak heran, angka yang dilihat Nizam untuk menuju Lombok pun ikut turun.

Sesuai aturan tersebut, TBA untuk relasi Jakarta-Lombok seharusnya dipatok Rp1,39 juta. Dengan demikian, tarif pesawat saat ini masih lebih mahal dibanding angka yang tertera pada beleid tersebut. Meski demikian, Nizam tak mempermasalahkan hal tersebut.

"Kan kemarin orang pada ribut tarif pesawat turun, ini sudah turun Rp300 ribu sudah lumayan sih. Tapi memang masih belum maksimal turunnya. Akhir tahun lalu, saya pernah lihat tiket Jakarta-Lombok masih dihargai Rp1,1 juta untuk maskapai yang sama," imbuh dia.


Pada akhirnya, Nizam berupaya mengambil hikmah bahwa lebih baik membeli tiket jauh-jauh hari ketimbang dana yang ada keburu terpakai untuk hal lain. Terlebih bertolak ke Lombok dua bulan lagi merupakan liburan pertamanya tahun ini.

"Lagipula saya juga tidak tahu kalau tarif pesawat bakal turun kan, no regrets lah. Meski memang, selisih harga Rp300 ribu itu setara dengan satu malam menginap di hotel di Lombok," ungkap dia.

Kondisi terbalik diungkapkan Nicky Tulong (30). Pria yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) ini justru semringah. Tadinya, ia akan melakukan perjalanan dinas dari tempat ia bekerja di Malang, Jawa Timur menuju Semarang, Jawa Tengah. Namun, ia menunda membeli tiket karena waktu dinas masih lama.

Ternyata, tarif tiket Surabaya-Semarang malah turun dalam waktu sepekan. Meski memang penurunannya tidak begitu signifikan.


"Memang turun tapi tidak seberapa. Selain itu sampai sekarang saya juga belum beli tiketnya," jelas Nicky.

Menurut dia, turunnya harga tiket pesawat untuk perjalanan dinas memudahkan proses administrasi di kantornya. Ia berkisah, kala tiket pesawat masih mahal, auditor kantornya selalu bertanya mengenai opsi transportasi yang lebih murah. Padahal, harga tiket pesawat memang sedang tinggi-tingginya.

Dengan penurunan tarif batas atas, ia hanya berharap tidak lagi sering diinterogasi oleh auditor kantornya karena memberi bukti perjalanan dinas dengan angka fantastis.

"Karena mereka (auditor) melihat tarif tren perjalanan ke lokasi yang sama sebelumnya dan tren tarif perjalanan ke lokasi lain, jadi ketika ada tarif yang mahal, mereka kerap bertanya opsi yang lebih murah," jelas dia.


Meski senang dengan penurunan tarif, namun ia kini lebih berhati-hati dalam memilih maskapai ketika melakukan perjalanan dinas. Pasalnya, maskapai berbiaya murah (Low Cost Carrier/LCC) saat ini belum tentu benar-benar lebih murah dibanding maskapai full-service setelah maskapai LCC memberlakukan tarif bagasi. Salah pilih maskapai, Nicky bisa berujung diberondong pertanyaan oleh auditornya lagi.

Untuk penerbangan jarak jauh dengan durasi dinas yang lama, ia lebih memilih terbang dengan maskapai full service. Meski secara tarif lebih mahal, namun seluruh koper yang ia bawa tidak perlu dikenakan biaya tambahan.

Sementara itu, jika perjalanan dinasnya dilakukan dalam satu hari, tentu ia lebih memilih maskapai LCC. Apalagi, barang bawaannya pun bisa ditaruh di bagasi kabin saja.

"Sebenarnya kalau pergi antar kota di Jawa kan juga bisa pakai perjalanan darat, cuma tetap pesawat jadi nomor satu karena menghemat waktu," jelasnya. (glh/lav)