Kondisi Ekonomi AS Jungkalkan Harga Minyak Hingga 5 Persen

CNN Indonesia | Jumat, 24/05/2019 07:35 WIB
Kondisi Ekonomi AS Jungkalkan Harga Minyak Hingga 5 Persen Ilustrasi harga minyak. (REUTERS/Sergei Karpukhin)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia melemah sekitar 5 persen pada perdagangan Kamis (23/5), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan utamanya berasal dari peningkatan tensi perdagangan AS-China yang dapat mengganggu permintaan.

Dilansir dari Reuters, Jumat (24/3), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$3,23 atau 4,6 persen menjadi US$67,76 ped barel.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$3,51 atau 5,7 persen menjadi US$57,91 per barel. Di awal sesi perdagangan WTI sempat tertekan ke level US$57,33 per barel, terendah sejak 13 Maret 2019.


Penurunan kedua harga acuan yang terjadi pada Kamis (23/5) merupakan pelemahan harian dan mingguan terbesar dalam enam bulan terakhir.


Penurunan kedua harga acuan telah terjadi selama dua hari berturut-turut. Pada Rabu (22/5) lalu, harga WTI turun 2,5 persen setelah pemerintah AS mencatat kenaikan persediaan minyak mentahnya hingga ke level tertinggi sejak Juli 2017.

Pelemahan harga minyak mengikuti pergerakan pasar global seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terkait perang dagang AS-China yang dapat segera beralih menjadi perang dingin teknologi antara kedua negara.

Selain itu, pelaku pasar juga memberikan perhatian pada pelemahan data perekonomian AS serta kondisi pasokan minyak yang berlebih. "Sekali lagi, kita sedang melihat dampak dari kekhawatiran terhadap perang dagang terhadap permintaan," ujar Vice President Tradition Energy Gene McGillian di Stamford, Connecticut.

Menurut McGillian, manajer keuangan yang selama ini berada di posisi beli sedang 'menuju jalan keluar' seiring kekhawatiran terhadap perang dagang.

[Gambas:Video CNN]

Indikator kesehatan ekonomi untuk AS, Eropa, dan Jepang tumbuh tak sebesar harapan. Perusahaan data IHM Markit menyatakan indeks manufaktur PMI AS turun ke level dari 52,6 pada April menjadi 50,6 di awal Mei 2019 lalu.

Penurunan tersebut merupakan yang terendah sejak September 2009. Indeks di atas 50 mengindikasi pertumbuhan di sektor manufaktur yang berkontribusi sekitar 12 persen pada perekonomian AS.

Penurunan indeks PMI AS mengindikasikan pelemahan pada sektor manufaktur. Artinya pesanan yang diterima pabrik di sana turun untuk pertama kalinya sejak Agustus 2009.

Sementara, hasil survei IHM Markit untuk kawasan Eropa mengindikasikan pertumbuhan yang lebih rendah dari ekspektasi pada bulan ini. Di saat yang sama, sejumlah analis mengingatkan tensi AS -Iran mulai mereda.


"Pemerintah AS sepertinya meredakan retorika presidennya terkait Iran," ujar Partner Again Capital John Kilduff di New York.

Menurut Kilduff, pasar telah memasukkan premi risiko terkait sanksi AS terhadap Iran dan saat ini premi risikonya menurun. Sementara itu, kebijakan pemangkasan produksi yang dipimpin oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) menjadi faktor penahan harga tidak turun lebih dalam.

Bank Perancis BNP menyatakan tingginya persediaan akan membuat OPEC kemungkinan akan melanjutkan kebijakan pemangkasan produksinya melampaui Juni 2019 yang merupakan batas akhirnya. Menurut Kilduff, risiko geopolitik juga masih cukup untuk menahan pelemahan harga minyak.

Serangan drone peledak pada Arab Saudi di awal pekan ini menarik perhatian investor ke gejolak di Timur Tengah. Gejolak tersebut kemungkinan akan mencegah harga minyak kembali ke level yang rendah pada Februari lalu.

(sfr/agt)