BI Sebut Persepsi Investasi di Indonesia Sempat Memburuk

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 11:45 WIB
BI Sebut Persepsi Investasi di Indonesia Sempat Memburuk Ilustrasi BI. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mengaku sempat mengkhawatirkan risiko yang terjadi di pasar keuangan setelah melihat indikator Credit Default Swap (CDS) yang sempat meningkat pekan lalu. Kendati demikian, indikator tersebut kini sudah kian membaik.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan nilai CDS Indonesia untuk Surat Berharga Negara (SBN) bertenor 10 tahun kini sudah di angka 103. Namun, beberapa hari sebelumnya, nilai CDS Indonesia sempat naik 5 hingga 7 basis poin dan mencapai 107,95 pada Kamis (23/5).

Sekadar informasi, CDS digunakan untuk menilai persepsi risiko investasi. Semakin besar skornya, maka risiko berinvestasi di SBN juga semakin tinggi. Sebaliknya, jika skor semakin kecil, maka risiko investasinya juga makin rendah.


"Memang beberapa hari kemarin (CDS) sempat memburuk, namun pergerakannya hanya 5 hingga 7 basis poin jadi tidak terjadi lonjakan signifikan," jelas Mirza, Senin (27/5).


Menurut dia, investor memang sempat mengkhawatirkan terhadap perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Ketika Presiden AS Donald Trump mulai menaikkan lagi bea masuk impor China, menurut dia, pasar keuangan benar-benar terkejut sehingga beberapa negara yang mengalami defisit transaksi berjalan terpukul akibat kabar tersebut.

Kondisi ini kemudian ditambah lagi dengan kondisi kerusuhan yang terjadi di Jakarta pada pekan lalu. "Tapi alhamdulillah kami melihatnya situasi cukup terkendali. Kami yang jaga stabilitas melihat gejolak di pasar keuangan 21 hingga 22 Mei itu bisa dikatakan relatif terkendali," jelas dia.

Meski demikian menurut dia, masih banyak negara lain yang punya nilai CDS lebih buruk dibanding Indonesia. Turki, contohnya, kini nilainya sebesar 489 atau memburuk 128 basis poin secara tahun kalender. Kemudian, nilai CDS Italia juga meningkat 5 basis poin secara tahun kalender ke posisi 209.

Terdapat pula negara yang mengalami penurunan skor CDS, sehingga persepsi investasinya membaik. Brazil, lanjutnya, kini skornya di angka 184 atau membaik 23 basis poin. Kemudian, skor Meksiko kini di angka 117 atau membaik 37 basis poin.


"Tapi memang dibanding Filipina, Thailand, dan Malaysia, Indonesia masih belum sebagus mereka karena seluruh skornya di bawah 100 semua. Skor CDS Malaysia saat ini sebesar 64, Filipina 56, dan Thailand 37," papar dia.

Ia sendiri berharap persepsi investasi Indonesia bisa terus membaik setelah beberapa indikator mengalami perbaikan pasca kerusuhan 21 dan 22 Mei kemarin. Sebagai contoh, kini nilai tukar rupiah di pasar spot sudah mencapai Rp14.375 setelah sempat menyentuh Rp14.520 pada 22 Mei lalu.

Kemudian, kini imbal hasil (yield) SBN Indonesia dengan tenor 10 tahun sudah turun ke 7,908 persen setelah sebelumnya mencatat angka 8,087 persen 22 Mei lalu. Imbal hasil adalah cerminan tingkat risiko, artinya risiko SBN kian membaik.

"Jadi kalau situasi politik back to normal, kami akan kembali melihat kondisi fundamental Indonesia yang tergantung kondisi global terkait ekonomi antara AS dna China," tutur Mirza.
[Gambas:Video CNN] (agi)