Perang Dagang Belum Usai, Rupiah 'Perkasa' jadi Rp14.375

CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 16:36 WIB
Perang Dagang Belum Usai, Rupiah 'Perkasa' jadi Rp14.375 Ilustrasi mata uang. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.375 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (28/5) sore. Angka itu menguat 0,03 persen dibandingkan penutupan Selasa (27/5) sore, yakni Rp14.380 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.380 per dolar AS, atau melemah dibanding posisi kemarin yakni Rp14.360 per dolar AS. Hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.370 per dolar AS hingga Rp14.419 per dolar AS.

Di saat bersamaan, sebagian besar mata uang utama Asia melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,07 persen, peso Filipina melemah 0,09 persen, won Korea Selatan melemah 0,15 persen, dan dolar Singapura melemah 0,17 persen. Kemudian, yuan China melemah 0,22 persen dan rupee India melemah 0,29 persen.


Hanya sebagian kecil mata uang Asia yang menguat seperti baht Thailand sebesar 0,23 persen dan yen Jepang sebesar 0,25 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong tak bergerak terhadap dolar AS.


Di sisi lain, mata uang negara maju terbilang bervariasi. Dolar Australia menguat 0,01 persen, poundsterling Inggris melemah 0,11 persen, dan euro tak bergerak terhadap dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan sejatinya indeks dolar AS menguat di hari ini. Maka itu, rupiah terbilang melemah terhadap dolar AS pada sesi siang menjelang penutupan, meski ujung-ujungnya rupiah menguat tipis terhadap dolar AS.

Terdapat beberapa sentimen yang menyebabkan dolar perkasa pada pekan ini. Pertama, adalah masalah perang dagang antara AS dan China. Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa negara adidaya itu belum siap membuat kesepakatan dengan China.


Bahkan, ia menyebut bahwa tarif AS atas barang impor China di masa depan bisa semakin besar. Sehingga, ini bikin investor khawatir bahwa perang dagang tak akan usai.

Kedua, lanjut Ibrahim, adalah hasil pemilihan parlemen Uni Eropa. Setelah hasil pemilu keluar Senin (27/5), ternyata parlemen dari 28 negara anggota Uni Eropa sudah membuat kubu-kubu tersendiri. Hal ini membuat euro melemah seiring perhatian investor kembali ke dolar AS.

"Terdapat polarisasi parlemen Eropa yang merupakan semacam representasi dari keseluruhan situasi politik Eropa," jelas Ibrahim, Selasa (28/5).

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)