Laporan itu menyebut koreksi proyeksi sebagai cerminan dari perdagangan dan investasi global yang lebih lemah dari perkiraan pada awal tahun ini. Tak heran, pertumbuhan perdagangan global pun direvisi turun hingga satu poin menjadi 2,6 persen pada 2019 ini.
Angka pertumbuhan perdagangan dunia itu merupakan angka terendah dalam satu dekade terakhir atau sejak krisis keuangan global melanda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara maju Eropa juga dipangkas. Tidak tanggung-tanggung, pemangkasannya bahkan mencapai 0,4 persen, yaitu dari 1,6 persen menjadi hanya 1,2 persen.
Untuk China, Bank Dunia tidak mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu. Proyeksinya tetap di kisaran 6,2 persen, meskipun masih terdapat tantangan terhadap arus perdagangan yang lemah, serta produksi manufaktur yang melempem.
[Gambas:Video CNN]
RI Stabil, Negara Berkembang Lesu
Untuk pertumbuhan ekonomi RI, Bank Dunia belum mengubah proyeksinya. Diperkirakan angkanya stabil di kisaran 5,2 persen. "Di Indonesia, pertumbuhan selama ini didukung oleh konsumsi rumah tangga yang kuat dan investasi dari berbagai proyek infrastruktur," tulis laporan tersebut.
Padahal, secara umum Bank Dunia merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang (EMDE) hingga 0,3 persen, yakni dari 4,3 persen menjadi hanya 4 persen.
Kontribusi negatif terutama datang dari Turki, dengan revisi proyeksi hingga 2,6 persen menjadi minus 1 persen.