REKOMENDASI SAHAM

Peringkat Utang Naik, Lirik Saham Penghuni IDX30

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Senin, 10/06/2019 09:40 WIB
Peringkat Utang Naik, Lirik Saham Penghuni IDX30 Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Jelang libur Lebaran kemarin, lembaga pemeringkat utang S&P mengerek peringkat utang Indonesia dari BBB- menjadi BBB dengan outlook stabil. Peringkat tersebut mencerminkan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih cukup kuat.

Keputusan S&P tersebut jelas menjadi sentimen positif untuk pasar saham dalam negeri. Pasalnya, kenaikan peringkat utang biasanya bakal menarik investor untuk menanamkan dananya di Indonesia.

Namun, karena S&P baru mengerek peringkat utang Indonesia akhir Mei 2019 atau hari perdagangan terakhir sebelum libur panjang Lebaran 2019, maka efeknya belum begitu terlihat bagi pasar saham dalam negeri. Pengaruh dari sentimen tersebut baru akan terasa pada pekan ini.


Kepala Riset Narada Asset Manajemen Kiswoyo Adi Joe menyatakan peningkatan peringkat utang Indonesia umumnya akan lebih memancing pelaku pasar asing untuk meramaikan pasar saham dalam negeri.


Mereka akan mengincar saham-saham penghuni indeks IDX30 atau saham dengan nilai kapitalisasi pasar cukup tinggi (big capitalization/big cap), seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).

Mengutip laman resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks IDX30 adalah indeks yang mengukur performa harga dari 30 saham-saham yang memiliki likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar. Pemilihan saham juga bergantung dari fundamental masing-masing perusahaan.

"Biasanya saham berkapitalisasi besar di LQ45, tapi asing akan lebih lihat IDX30 atau yang nilai kapitalisasi pasarnya lebih paling tinggi," ungkap Kiswoyo kepada CNNIndonesia.com, Senin (10/6).

Pelaku pasar asing, sambung dia, senang dengan saham-saham big cap karena dianggap cukup liquid. Dengan demikian, saham itu selalu laris ketika dijual di pasar reguler.

[Gambas:Video CNN]

"Jadi jangan sampai hanya bisa beli tapi tidak bisa jual, asing tidak aneh-aneh kok yang penting liquid," jelasnya.

Ia menyatakan harga saham BRI, Telekomunikasi Indonesia, dan HM Sampoerna berpotensi naik 3 sampai 5 persen sepanjang pekan ini. Ini artinya, ketiga saham itu akan semakin perkasa setelah menguat cukup signifikan pada perdagangan terakhir sebelum libur lebaran.

Pada perdagangan terakhir, saham BRI terpantau naik 4,06 persen ke level Rp4.100 per saham, Telekomunikasi Indonesia 3,17 persen ke level Rp3.900 per saham, dan HM Sampoerna 2,42 persen ke level Rp3.380 per saham.

Dengan perkiraan kenaikan 3-5 persen, maka setidaknya pekan ini saham BRI berpotensi tembus ke level Rp4.300 per saham, Telekomunikasi Indonesia ke level Rp4.090 per saham, dan HM Sampoerna ke level Rp3.540 per saham.


Sementara, Kepala Riset Oso Sekuritas Ike Widiawati ikut merekomendasikan saham BRI lantaran Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya di level -0,4 persen. Menurutnya, sektor perbankan bisa menjadi sorotan pelaku pasar.

"Perbankan dapat sentimen positif dari ECB. Dengan demikian Bank Indonesia dalam mempertahankan arus dana asing tidak harus menaikkan suku bunganya," tutur Ike.

Diketahui, saham sektor perbankan masuk dalam indeks sektor keuangan. Pada pekan terakhir Mei 2019, sektor keuangan menunjukkan pergerakan positif dengan penguatan 2,4 persen.

"ECB yang memutuskan untuk melanjutkan kebijakan suku bunga rendah berpotensi menggerakkan sektor perbankan dalam jangka pendek," terang dia.

Hanya saja, pelaku pasar patut mewaspadai aksi ambil untung (profit taking) mengingat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan saham perbankan sudah menguat signifikan pada perdagangan terakhir. Ike melihat saham BRI pekan ini berpotensi bertengger di level Rp4.410 per saham.


Cermati Saham Chandra Asri

Tak hanya soal S&P dan kebijakan suku bunga Bank Sentral Eropa yang akan mewarnai pasar saham dalam jangka pendek, tapi penurunan harga minyak mentah beberapa waktu terakhir juga akan menguntungkan bagi emiten yang menggantungkan hidupnya pada komoditas tersebut.

Ike menyebut salah satu perusahaan yang dimaksud adalah PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Ia menyatakan mayoritas beban biaya perusahaan tersebut dikucurkan untuk membeli minyak mentah sebagai bahan baku produksi.

"Dengan harga bahan baku (minyak mentah) yang lebih rendah maka biayanya bisa ditekan oleh perusahaan, dampaknya akan positif untuk Chandra Asri Petrochemical," ujar Ike.

Ia menargetkan harga saham perusahaan bisa ke level Rp5.300 per saham pekan ini. Dengan kata lain, harga saham Chandra Asri Petrochemical berpeluang meningkat 3,92 persen dari posisi terakhirnya di level Rp5.100 per saham.


Sebagai catatan, harga minyak mentah dunia merosot pada Kamis (30/5) lalu. Harga minyak mentah berjangka Brent turun US$2,58 atau 3,7 persen menjadi US$66,87 per barel, terendah sejak 12 Maret 2019.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$2,22 atau 3,8 persen menjadi US$56,59 per barel, terlemah sejak 8 Maret 2019.

Pelemahan berlanjut hingga pekan lalu atau tepatnya Rabu (5/6) lalu. Harga minyak mentah berjangka Brent anjlok 2,2 persen dan WTI turun 3,4 persen. Pelemahan ini terjadi setelah persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) melonjak, sehingga menambah kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global. (agt)