Mei, Surplus Neraca Dagang China dengan AS Naik Rp82,5 T

CNN Indonesia | Senin, 10/06/2019 12:13 WIB
Mei, Surplus Neraca Dagang China dengan AS Naik Rp82,5 T Ilustrasi ekspor-impor. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Ekspor China tumbuh mengejutkan. Di tengah serangan tarif impor tinggi yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) atas produk Negeri Tirai Bambu tersebut, ekspor China berhasil naik.

Data bea cukai China menunjukkan ekspor China pada sepanjang Mei kemarin naik 1,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut jauh dari perkiraan analis.

Pasalnya para analis sebelumnya memperkirakan bahwa ekspor China pada Mei akan turun 3,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2017 lalu. Tidak hanya ekspor mereka yang tumbuh, data terbaru juga menunjukkan bahwa di tengah serangan tarif tinggi yang dilancarkan AS, surplus neraca perdagangan China dengan AS justru naik.


Data bea cukai China, neraca perdagangan China terhadap AS mencapai US$26,89 miliar pada Mei kemarin. Surplus tersebut naik dibandingkan neraca dagang April yang US$21,01 miliar.


Dengan kondisi tersebut, surplus neraca dagang China dengan AS pada Januari-Mei mencapai $ 110,55 miliar.

AS dengan China saat ini sedang terlibat perang tarif dagang. Perang dagang dipicu oleh defisit neraca dagang AS dengan China.

Pada sepanjang 2017, neraca dagang AS dengan China tercatat mengalami defisit US$357,23 miliar atau sekitar Rp5.000 triliun lebih. Defisit tersebut membuat Presiden AS Donald Trump marah.

Ia menuduh defisit terjadi akibat kecurangan dagang yang dilakukan China terhadap negaranya. Trump kemudian menabuh genderang perang dagang terhadap China. Mulai pertengahan tahun lalu, Trump mengenakan tarif 10 persen atas impor produk China bernilai US$200 miliar. Tarif berlaku mulai 24 September 2018.

[Gambas:Video CNN]

Tak mau kalah, China membalas serangan tersebut dengan memberlakukan tarif atas impor barang senilai US$60 miliar asal AS. AS dengan China pada awal 2019 sampai dengan 30 April berusaha mengatasi konflik tersebut dengan menggelar perundingan dagang. Tapi sayangnya sampai saat ini perundingan belum membuahkan hasil.

Trump menuduh, China memang tidak memiliki keinginan baik untuk mengakhiri perang dagang dengan negaranya. Atas dasar itulah, mulai awal Mei lalu pemerintahannya memutuskan untuk menaikkan tarif pada barang-barang China senilai US$200 miliar menjadi 25 persen pada hari ini, Jumat (10/5) lalu.

Pada Jumat (6/6) lalu, Trump bahkan mengeluarkan ancaman perang lagi dengan China. Ia berencana menghantam China dengan tarif tambahan pada produk senilai US$300 miliar asal negara tersebut.

Dana Moneter Internasional (IMF) beberapa waktu lalu mengatakan kecamuk perang dagang antara kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia tersebut berpotensi merusak ekonomi global. Perang tersebut berpotensi memperlambat ekonomi global hingga 0,5 persen pada 2020 nanti. 


(Reuters/agt)