Kadin Minta Segera Tuntaskan Penyidikan Duopoli Maskapai

CNN Indonesia | Rabu, 12/06/2019 20:53 WIB
Kadin Minta Segera Tuntaskan Penyidikan Duopoli Maskapai Ilustrasi (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kalangan pengusaha yang tergabung dalam Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) segera menuntaskan hasil penyelidikannya terkait efek duopoli terhadap tingginya tarif tiket pesawat. Sebab, tarif tiket pesawat menjadi faktor pengaruh terhadap lini bisnis lain, misalnya industri pariwisata.

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengatakan dunia usaha ingin KPPU segera menuntaskan penyelidikan ini karena memang kondisi pasar yang duopoli sangat bisa mempengaruhi tarif tiket pesawat. Duopoli merupakan kondisi di mana suatu pasar hanya dikuasai oleh dua pemain saja.

Pada pasar penerbangan di Indonesia sejatinya memang hanya ada dua grup besar yang bermain. Pertama, Grup Garuda Indonesia. Kedua, Grup Lion Air. Sementara Sriwijaya Air belakangan merapat ke Garuda Indonesia karena memiliki beban utang ke anak usaha maskapai pelat merah itu.

"Jadi Lion punya Wings, Garuda punya Citilink. Nah, itu harus dipecahkan masing-masing dan KPPU bisa masuk ke situ, selesaikan," ungkap Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/6).

Sementara, KPPU mengungkapkan masih perlu waktu untuk mengumpulkan bukti terkait dugaan persaingan usaha tak sehat dalam penentuan tarif tiket pesawat di pasar penerbangan yang duopoli.

Ketua KPPU Kurnia Toha mengatakan pihaknya belum bisa melanjutkan kasus ini ke persidangan karena bukti yang didapatkan belum cukup kuat. Setidaknya, KPPU membutuhkan dua bukti yang lebih berpengaruh.

"Jadi, memang terjadi duopoli. Duopoli sebenarnya tidak melanggar hukum karena itu kondisi industrinya. Kami selidiki ini karena ada indikasi itu (pelanggaran persaingan usaha)," ujarnya.

Indikasi pelanggaran usaha itu muncul setelah harga tiket pesawat melompat secara bersamaan sejak Desember 2018. Ia mengatakan pihaknya tengah menyelidiki apakah fenomena itu terjadi karena kerja sama antar perusahaan. 
"Jadi keuntungan mereka luar biasa di atas normal, itu melanggar. Tapi itu harus dicari tahu dari ahli juga," terang dia.

Sebelumnya, KPPU sudah melakukan pemanggilan kepada seluruh pihak yang terkait dengan industri penerbangan, di antaranya Kementerian Perhubungan, Garuda Indonesia, dan Lion Air.

Proses penyelidikan pun belum berlanjut karena libur panjang Lebaran. Makanya, ia berniat mengumpulkan seluruh bahan penyelidikan dalam satu sampai dua hari ke depan.


(uli/eks)