Jokowi Diminta Genjot Devisa Lewat TKI dan Pariwisata

CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 11:33 WIB
Jokowi Diminta Genjot Devisa Lewat TKI dan Pariwisata Ilustrasi TKI. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A.)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera mendongkrak jumlah devisa Tanah Air guna memperbaiki defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD). Caranya, dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan keterampilan kerja Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri serta pertumbuhan sektor pariwisata.

Hal ini disampaikan para pengusaha Kadin Indonesia ketika memenuhi undangan kepala negara terkait pembahasan kondisi ekonomi terkini pada Rabu (12/6). Pertemuan dilangsungkan di Istana Merdeka, Jakarta.

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Perkasa Roeslani mengatakan, pemerintah perlu memperbaiki kualitas pendidikan dan keterampilan TKI agar 'nilai jual' pekerja dari Tanah Air bisa meningkat. Kualitas TKI diharapkan setara dengan tenaga kerja yang berasal dari negara-negara tetangga seperti Filipina.

Menurut catatannya, saat ini jumlah TKI mencapai 3,6 juta orang. Dari jumlah tersebut, sumbangan remitansi yang diberikan TKI mencapai US$11 miliar.

Rosan mengatakan, sumbangan dari para TKI ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tenaga kerja Filipina. Data yang dimilikinya mencatat jumlah remitansi dari tenaga kerja Filipina di luar negeri mencapai US$33 miliar. Padahal, jumlah pekerja lebih sedikit sekitar 3,5 juta orang.

Untuk itu, menurutnya, perlu ada peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan TKI agar penghasilan yang didapat dan remitansi yang diberikan ke dalam negeri bisa meningkat. "Masalahnya adalah kemampuan bahasa dan keterampilan. Tapi itu bisa didorong dengan program vokasi, makanya kami bilangnya quick win," ujar Rosan.

Perhitungannya, bila kualitas pendidikan dan keterampilan TKI meningkat, bukan tidak mungkin jumlah remitansi yang tercatat sebagai devisa bagi Indonesia juga bisa bertumbuh. "Kalau (remitansi) naik US$10 miliar saja, itu bisa mengurangi CAD yang kurang lebih US$30 miliar," katanya.

Selain mendorong peningkatan kualitas TKI, Rosan mengatakan, pemerintah perlu menggenjot sektor pariwisata. Saat ini, pariwisata menjadi salah satu sektor penyumbang devisa bagi negara bersama ekspor minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO) dan batu bara.

Catatan Rosan menyebutkan, kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia yang mencapai 15,5 juta orang menghasilkan devisa senilai US$17 miliar. Namun, jumlah tersebut masih tertinggal dari Thailand yang berhasil memperoleh devisa mencapai US$62 miliar dari 38 juta kunjungan wisatawan mancanegara.

"Average spending [rata-rata pengeluaran] dan average tinggal juga lebih lama. Maka, perlu mendorong pariwisata agar lebih tinggi dari negara ASEAN lainnya," ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, kedua jurus itu perlu dilakukan agar masalah defisit transaksi berjalan bisa segera diselesaikan. Apalagi, defisit transaksi berjalan kerap memengaruhi penilaian investor terhadap prospek ekonomi Indonesia dan minat investasi.

"Maka ini penting untuk diimplementasikan, agar bisa dijalankan," pungkasnya.


[Gambas:Video CNN] (uli/asr)