Trump Tak Batasi Waktu Negosiasi Perang Dagang dengan China

CNN Indonesia | Kamis, 13/06/2019 17:09 WIB
Trump Tak Batasi Waktu Negosiasi Perang Dagang dengan China Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. (REUTERS/Damir Sagolj)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat (ASDonald Trump mengaku tak menetapkan batas waktu pemberlakuan tarif tambahan pada barang-barang China senilai US$325 miliar. Ia menyebut hubungan antara kedua negara baik, tetapi mudah terganggu usai China kembali berkomitmen untuk membahas kesepakatan dagang dengan AS.

Trump menyebut dia tetap berencana bertemu dengan Presiden China Xi Jinping akhir bulan ini. Ia telah berulang kali mengancam mengenakan tarif pada sisa barang-barang China yang belum terdampak kenaikan tarif sebelumnya, memanaskan perang dagang antara kedua negara. 

"Saya tidak punya batas waktu. Batas waktu saya tergantung pada kesepakatan apa yang akan terjadi. Kami akan tentukan batas waktunya, tidak ada yang tahus saat ini," ujar Trump dikutip dari Reuters, Kamis (13/6).



AS telah mengenakan tarif sebesar 25 persen untuk barang-barang asal China senilai US$250 miliar. Trump menegaskan kembali keyakinannya bahwa kenaikan tarif mampu mendongkrak manufaktur AS.

"Saya pikir, Kami (AS) akan berakhir membuat kesepakatan dengan China. Kami (AS-China) memiliki hubungan yang baik, walaupun saat ini sedang sedikit terganggu. Saya pikir memang perlu membuat kesepakatan." terangnya.

Meski Trump berencana mengadakan pertemuan dengan Xi pada KTT G20 di Jepang, China hingga kini belum mengkonfirmasi rencana pembicaraan tersebut.


Negosiasi guna mengakhiri perang dagang antara kedua negara sempat dilakukan tetapi berakhir gagal pada Mei lalu. Pemerintah AS menyebut China mengingkari komitmen untuk mengatasi sejumlah isu yang memicu perang dagang, seperti menghentikan pencurian hak kekayaan intelektual.

AS ingin China mengubah praktik perdagangannya dengan tidak mengharuskan perusahaan AS untuk membagikan teknologi mereka untuk melakukan bisnis di sana, mengekang subsidi untuk perusahaan milik negara Tiongkok dan meningkatkan akses ke pasar China.

[Gambas:Video CNN] (Reuters/agi)