Mendag Sebut Kondisi Ekonomi Baik Meski Neraca Dagang Defisit

CNN Indonesia | Jumat, 14/06/2019 10:17 WIB
Mendag Sebut Kondisi Ekonomi Baik Meski Neraca Dagang Defisit Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai kondisi perekonomian Indonesia cukup baik, meski neraca perdagangan defisit dan dibayangi perang dagang. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menilai kondisi perekonomian Indonesia masih cukup baik, meski neraca perdagangan mengalami defisit dan dibayangi perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-China beberapa waktu terakhir.

Enggar menjelaskan penurunan ekspor yang terjadi saat ini bukan disebabkan oleh kapasitas produksi yang menurun di dalam negeri, melainkan pengaruh harga komoditas di pasar internasional. Apalagi, Indonesia merupakan negara dengan pasar ekspor komoditas mentah yang sangat bergantung dengan pergerakan harga pasar, misalnya minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO).

Selain itu, pengaruh ekspor juga berasal dari sentimen hubungan dagang yang diberikan mitra dagang, misalnya perlakuan diskriminatif Eropa dan India.


"Misalnya, ekspor CPO ke India turun 72 persen karena (kebijakan) perbedaan tarif dari mereka. Mereka melihat defisit ke Indonesia cukup besar," ungkap Enggar di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (13/6).


Sementara impor yang meningkat, menurut dia, 'bukan barang haram' karena peningkatan terjadi pada barang modal.

"Kalau impor barang modal untuk saat ini saya tidak terlalu khawatir, karena itu persiapan industri dan infrastuktur heavy equipment," katanya.

Ia mengaku perang dagang AS-China tentu memberikan bayang-bayang dampak negatif bagi Indonesia. Apalagi, lembaga internasional memperkirakan perang dagang bisa menggerus pertumbuhan ekonomi.


Namun, ia menilai selama pemerintah bisa memetakan kebijakan untuk mencari celah dan memanfaatkan momentum perang dagang, maka dampak positif bisa saja didapat.

"Makanya kami buka pasar baru dan intens diplomasi dagang," pungkasnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai US$2,5 miliar pada April 2019. Itu merupakan catatan kinerja terburuk bagi perdagangan Tanah Air.

Sementara perang dagang antara AS dengan China kembali memanas. AS memblokir akses jaringan bisnis dan telekomunikasi Huawei, perusahaan teknologi raksasa asal China. Hal itu kemudian dibalas Negeri Tirai Bambu dengan rencana pengeluaran daftar hitam bagi perusahan-perusahaan AS yang melanggar peraturan pasar.

[Gambas:Video CNN] (uli/agi)