Harga Minyak Tertekan Data Ekonomi China

CNN Indonesia | Selasa, 18/06/2019 07:13 WIB
Harga Minyak Tertekan Data Ekonomi China Ilustrasi. (CNN Indonesia/Agus Triyono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia merosot lebih dari 1 persen pada perdagangan Senin (17/6), waktu Amerika Serikat (AS). Rilis data ekonomi China yang memburuk memicu kekhawatiran permintaan minyak global bakal menurun.

Dilansir dari Reuters, Selasa (18/6), harga minyak mentah berjangka Brent turun US$1,07 atau 1,73 persen menjadi US$60,94 per barel. Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,58 atau 1,1 persen menjadi US$51,93 per barel.

Harga minyak telah merosot sekitar 20 persen sejak April 2019 lalu di mana harga minyak mencapai level tertingginya untuk tahun ini. Penurunan tersebut sebagian disebabkan oleh kekhawatiran terkait perang dagan AS-China dan data ekonomi yang mengecewakan.


Pada Jumat (14/6) lalu, Biro Statistik Nasional China merilis data pertumbuhan output industri yang di luar dugaan melambat ke level terendah untuk lebih dari 17 tahun terakhir. Pertumbuhannya pada Mei 2019 lalu hanya 5 persen, di bawah ekspektasi analis yang sebesar 5,5 persen dan lebih rendah dari realisasi April yang mencapai 5,4 persen.


Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dapat bertemu pada pertemuan negara G20 di akhir bulan ini. Trump menyatakan ia akan bertemu dengan Xi dalam pertemuan tersebut namun China belum memberikan konfirmasi atas hal tersebut.

"Seluruh badan pelaporan utama melaporkan permintaan akan melemah," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn di Chicago.

Tak ayal, Bank of America Merrill Lynch menurunkan proyeksi harga Brent dari US$68 per barel menjadi US$63 per barel.

Sementara itu, kekhawatiran masih terjadi terkait memanasnya tensi di Timur Tengah menyusul serangan pada dua kapal tanker di Teluk Oman pada pekan lalu. AS menuding Iran sebagai biang keladi atas serangan tersebut namun Iran telah membantahnya.


Pada Senin (17/6) lalu, Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih menyatakan sejumlah negara harus berkerja sama untuk menjaga jalur pelayaran tetap terbuka untuk minyak. Selain itu, menjaga pasokan energi lain demi menjamin stabilitas pasokan.

Pelaku pasar juga menanti pertemuan anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen minyak lainnya, termasuk Rusia, yang akan digelar pada akhir bulan ini. Pertemuan tersebut akan memutuskan apakah kelompok yang dikenal dengan sebutan OPEC+ itu akan memperpanjang kebijakan pemangkasan produksinya.

Sebagai catatan, OPEC+ telah memangkas produksinya sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) sejak 1 Januari 2019 lalu. Kesepatan pemangkasan tersebut berlaku selama 6 bulan.

OPEC+ telah mempertimbangkan untuk mengubah waktu pertemuan dari 25-26 Juni menjadi 3-4 Juli di Wina. Namun, seperti dilaporkan oleh media Kementerian Perminyakan Iran SHANA yang dikutip Reuters, Menteri Perminyakan Iran menyatakan kepada perwakilan Rusia pada rapat awal pekan ini bahwa ia tidak setuju jika waktu pertemuan diubah ke awal Juli. Kendati demikian, ia bisa menghadiri pertemuan jika waktunya digeser ke 10-12 Juli 2019.

[Gambas:Video CNN]

Di AS, laporan aktivitas pengeboran bulanan Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menyatakan produksi minyak domestik dari 7 lapangan minyak shale utama diperkirakan naik sekitar 70 ribu bph menjadi 8,52 juta bph pada Juli mendatang. (sfr/lav)