Perang Dagang Bikin RI Makin 'Tekor' dari China

CNN Indonesia | Senin, 24/06/2019 15:43 WIB
Perang Dagang Bikin RI Makin 'Tekor' dari China Ilustrasi aktivitas perdagangan internasional. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kinerja perdagangan Indonesia terhadap China mengalami defisit mencapai US$8,48 miliar pada periode Januari-Mei 2019. Angka itu meningkat dari defisit Januari-Mei 2018 yang sebesar US$8,11 miliar.

Peningkatan defisit neraca perdagangan ditengarai sebagai dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan Indonesia dan China kian melebar karena nilai perdagangan ekspor dari Tanah Air ke Negeri Tirai Bambu menurun lebih dalam ketimbang impor dari China ke Indonesia.
 
Tercatat, nilai ekspor Januari-Mei 2019 hanya sebesar US$9,55 miliar. Padahal, ekspor periode yang sama tahun lalu mencapai US$10,25 miliar. Artinya, terjadi penurunan ekspor mencapai US$700 juta dalam lima bulan pertama tahun ini dibandingkan tahun lalu.




Sementara itu, penurunan impor dari China ke Indonesia lebih rendah, yaitu hanya sekitar US$330 juta dari US$18,36 miliar menjadi US$18,03 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto melihat penurunan ekspor yang lebih tinggi dari impor terjadi karena ketegangan hubungan antara China dengan AS. Kedua negara saling melempar kebijakan peningkatan tarif bea masuk impor untuk berbagai produk asal masing-masing negara.

Hal tersebut, katanya, membuat kinerja industri di China menurun. Bahkan, pertumbuhan ekonomi negara tersebut sudah melambat dari 6,8 persen pada kuartal I 2018 menjadi 6,4 persen pada kuartal I 2019.

"Kalau ada perlambatan (pertumbuhan ekonomi di China), pasti mempengaruhi permintaan (barang ke Indonesia)," ujarnya di Gedung BPS, Jakarta, Senin (24/6).


Selain karena perang dagang, menurutnya, penurunan kinerja ekspor yang selanjutnya meningkatkan posisi defisit dagang Indonesia dari China juga terjadi karena penurunan harga komoditas di pasar internasional. Terlebih, sambungnya, jenis komoditas yang kerap diekspor ke China merupakan komoditas sumber daya alam.

"Komoditas utama yang diekspor ke China adalah lignit, batu bara, dan minyak kelapa sawit. Komoditas-komoditas ini mengalami penurunan harga dari April ke Mei lalu," ungkapnya.

Kendati mengalami peningkatan defisit neraca perdagangan dari China, namun Indonesia justru berhasil meningkatkan surplus perdagangan dari AS. Tercatat, surplus meningkat dari US$3,56 miliar menjadi US$3,93 miliar.

Hal ini terjadi karena ekspor dari Indonesia ke AS meningkat dari US$7,42 miliar menjadi US$7,25 miliar pada periode Januari-Mei 2019. Sedangkan impor menurun dari US$3,86 miliar menjadi US$3,32 miliar.

[Gambas:Video CNN]

Menurut catatannya, peningkatan ekspor ke AS terjadi untuk produk pakaian jadi bukan rajutan, rajutan, ikan, dan udang. "Jadi perang dagang ini selalu harus diwaspadai, tapi masih ada sisi terangnya," pungkasnya. (uli/lav)