Sentimen Risiko Ekonomi AS, Rupiah Kuat Rp14.125 per Dolar AS

CNN Indonesia | Selasa, 25/06/2019 16:42 WIB
Sentimen Risiko Ekonomi AS, Rupiah Kuat Rp14.125 per Dolar AS Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.125 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (25/6) sore. Angka itu menguat 0,15 persen dibanding penutupan Senin (24/6) yakni Rp14.146 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.138 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin yakni Rp14.165 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada di posisi

Pada hari ini, pergerakan sebagian besar mata uang utama Asia terbilang bervariasi terhadap dolar AS. Terdapat mata uang yang melemah seperti peso Filipina sebesar 0,04 persen, yuan China melemah sebesar 0,06 persen, ringgit Malaysia melemah 0,09 persen, dan baht Thailand melemah 0,22 persen.


Terdapat pula mata uang utama Asia yang menguat seperti won Korea Selatan sebesar 0,01 persen, dolar Hong Kong sebesar 0,05 persen, dan yen Jepang sebesar 0,21 persen. Di sisi lain, dolar Singapura malah tak bergerak melawan dolar AS hari ini.


Di sisi lain, pergerakan mata uang negara maju juga bervariasi terhadap dolar AS. Euro misalnya, melemah 0,11 persen di hari ini. Sementara poundsterling Inggris menguat 0,19 persen dan dolar Australia menguat 0,06 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan peluang bank sentral AS The Fed untuk menurunkan suku bunga acuannya, Fed Rate semakin terbuka lebar. Terlebih, International Monetary Fund (IMF) memperingatkan AS mengenai peningkatan risiko jangka menengah terhadap ekonominya seiring meningkatnya sengketa dagang dengan China dan pembalikan tiba-tiba di pasar keuangannya.

"Sehingga sangat wajar, prospek pelonggaran moneter yang dilakukan oleh Federal Reserve untuk melawan perlambatan ekonomi global yang diperburuk oleh ketegangan perdagangan global," jelas Ibrahim, Selasa (25/6).

Selain itu, rupiah juga masih mendapatkan angin segar dari sinyal damai perang dagang antara AS dan China, seiring Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping akan bertemu di Konferensi Tingkat Tinggi (KKT) G20 akhir pekan ini.

"Damai dagang AS-China akan membuat rantai pasok global tidak lagi terhambat. Artinya, ada harapan pertumbuhan ekonomi global yang lebih baik," pungkas dia. (glh/lav)