Darmin mengatakan pemerintah masih memberikan waktu bagi maskapai untuk menghitung efisiensi yang bisa dilakukan. Ia meyakini penurunan tarif tiket pesawat bukan hanya disebabkan karena eflsiensi internal maskapai, namun juga faktor lain, seperti biaya jasa kebandarudaraan hingga bahan bakar.
"Paling lambat memang 1 Juli, tapi bukan berarti semuanya akan turun. Karena kesepakatan kami saat itu (rapat koordinasi tingkat Kemenko Perekonomian) sudah diturunkan tapi tak cukup tinggi," jelas Darmin, Selasa (25/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:AirAsia Beberkan Rahasia Racik Tiket Murah |
"Penerbangan yang lainnya tetap harga normal seperti saat ini. Tapi kadang kan penerbangan yang laku keras ini pagi dan sore, jadi yang siang bisa saja dimurahkan oleh maskapai. Arahnya seperti itu," tutur Darmin.
Apalagi, ia menilai maskapai masih berdarah-darah. Kemarin, AirAsia Indonesia mengumumkan rugi Rp93,79 miliar di kuartal I 2019. Tak lupa, Lion Air pun sempat meminta penundaan pembayaran jasa kebandarudaraan di beberapa bandara.
[Gambas:Video CNN]
"Jadi memang kalau dihitung secara keekonomian, mereka sebenarnya sudah kesulitan," jelas dia.
Pekan lalu, pemerintah menegaskan tengah mengupayakan agar tarif penerbangan berbiaya murah (Low Cost Carrier/LCC) bisa turun. Kebijakan tersebut terdiri dari efisiensi biaya penerbangan dan juga beban-beban usaha yang lain. (glh/bir)