Membedah Jarak dan Biaya Perjalanan Menuju Bandara Kertajati

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Kamis, 27/06/2019 09:28 WIB
Membedah Jarak dan Biaya Perjalanan Menuju Bandara Kertajati Ilustrasi Bandara Kertajati. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Majalengka, CNN Indonesia -- Warga Bandung kini harus menempuh perjalanan cukup panjang untuk menikmati jasa angkutan penerbangan. Penyebabnya, sejumlah maskapai memindahkan basis penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara yang berada di Kota Bandung menuju Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka, mulai 1 Juli 2019.

Perbedaan jarak tempuh antara Bandung dan Kertajati bisa jadi perkara tersendiri, mengingat jarak keduanya mencapai 165 kilometer (km). Jarak itu bahkan lebih jauh dari Jakarta dan Bandung.

Pada Rabu (26/6), tim CNNIndonesia.com mencoba menelisik rute mana saja yang tepat demi menuju bandara dengan usia kurang dari setahun tersebut.


Seperti pelancong pada umumnya, kami memantau pergerakan lalu lintas melalui aplikasi peta digital yang terdapat di ponsel pintar. Kala itu, kami berada tepat di Jl. H. Djunjunan, Kota Bandung, sehingga terdapat dua opsi yang muncul, yakni melalui kota Bandung-Lembang-Subang atau melalui Tol Padalarang-Cileunyi yang bersambung ke Tol Cikopo-Palimanan.

Hanya saja, mencari jalan yang jitu ke Kertajati ibarat membeli kucing dalam karung. Banyak pilihan, namun risiko masing-masing rute masih belum diketahui. Untungnya, Ali, salah seorang pedagang di kawasan tersebut, memberi tahu bahwa perjalanan melalui tol merupakan pilihan yang jitu.


"Kalau lewat jalan biasa akan macet saat masuk Kota Bandung, dan tidak bisa mengebut. Kalau jalan tol, harapannya sih bisa lebih cepat," jelas Ali.

Akhirnya, kami mengikuti saran Ali. Perjalanan menuju Bandara Kertajati diputuskan melalui Tol Padalarang-Cileunyi yang nantinya akan menyambung dengan Tol Cipali. Tepat pukul 12.30 WIB, gerbang tol Pasteur sudah di depan mata. Saatnya melewati perjalanan yang menurut peta digital akan menghabiskan waktu 2 jam 30 menit lamanya.

Namun, estimasi tetaplah estimasi. Nyatanya, banyak halangan yang merintang, meski jalan tol diklaim sebagai jalan bebas hambatan.

Halangan pertama muncul ketika kami memasuki Tol Purbaleunyi Kilometer (KM) 109, di mana rentetan kendaraan berhenti begitu saja. Ternyata, ada perbaikan struktur dasar jalan tol, sehingga menyebabkan kemacetan meski hanya berdurasi 5 menit saja.

Namun, macet kembali hadir di KM 102 dan KM 69 dengan total durasi selama hampir 30 menit. Bahkan, kemacetan di KM 102 berlangsung hingga KM 98. Sehingga total hampir 1,5 jam dihabiskan di Tol Padalarang-Cileunyi saja. Untungnya, terdapat dua area peristirahatan (rest area), sehingga pengendara bisa beristirahat sejenak jika merasa lelah.


Kemudian, kami keluar dari tol tersebut melalui gerbang Kalihurip Utama. Tak berselang lama, gerbang tol Cikampek Utama I melintang di depan mata, yang artinya sudah memasuki ruas Tol Cipali.

Sejatinya, tak ada kendala berarti ketika kami melewati Cipali. Volume kendaraan tak begitu banyak, kontur jalanpun terbilang mulus. Namun, jarak yang terbilang jauh membuat perjalanan melalui tol itu terasa membosankan.

Sejauh mata memandang, hanya ada tiga rest area yang berjejer di lajur sepanjang 90 km tersebut. Apalagi, pemandangan sepanjang jalan tol Cipali pun terbilang monoton

Akhirnya, tepat pukul 16.04 WIB, kami tiba juga di Gerbang Tol Kertajati. Namun setelah itu, diperlukan perjalanan tambahan sekitar 11 menit yang setara dengan 13 km dari gerbang tol itu untuk menuju Bandara Kertajati. Jika ditotal, maka perjalanan dari Bandung hingga Kertajati memakan waktu hingga 3 jam 45 menit.

Sementara itu, dari sisi biaya, kami menghitung biaya tol yang dikeluarkan sejak Bandung mencapai Rp177.500 yang terdiri dari Gerbang Tol Pasteur-Kalihurip Utama senilai Rp43.500, Gerbang Tol Kalihurip Utama-Gerbang Tol Cikampek Utama I seharga Rp15 ribu, dan Gerbang Tol Cikampek Utama I-Gerbang Tol Kertajati seharga Rp75 ribu.


Kemudian, biaya bahan bakar yang dikeluarkan sebesar Rp120 ribu untuk BBM jenis Pertamax yang setara dengan 12,18 liter. Untungnya, masih ada sisa bahan bakar kira-kira 30 persen setelah tiba di Bandara Kertajati.

Kemudian, kami juga perlu merogoh Rp5.000 untuk biaya parkir bandara dalam satu jam pertama. Sehingga, total biaya yang dikeluarkan sepanjang perjalanan mencapai Rp302.500.

Direktur Operasi dan Pengembangan Bisnis PT Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Agus Sugeng Widodo mengakui masalah konektivitas adalah hambatan untuk membuka pasar Bandara Kertajati.

Sebagai pegawai BIJB, dirinya memang terbiasa dengan perjalanan jauh dari Bandung. Namun, tidak demikian halnya dengan pengunjung bandara. Makanya, BIJB perlu memutar otak agar masyarakat tidak perlu membayar mahal untuk menuju Kertajati.

Rencananya, dalam rangka mengakomodasi migrasi penumpang dari Bandung, pihaknya telah bekerja sama dengan 12 operator transportasi dan satu transportasi daring agar akses menuju Kertajati bisa lebih mudah. Apalagi, migrasi penumpang ini akan terjadi dalam kurun kurang dari sepekan mendatang.

"Ke-12 operator ini sudah mendapatkan izin dari Dinas Perhubungan dan sudah bekerja sama dengan kami. Dan tentu juga ada bus yakni Perum Damri juga sudah kerja sama dengan kami," jelas Agus, Rabu (26/6).

[Gambas:Video CNN] (lav)