Tony Fernandes soal Tiket Pesawat: Regulasi Membunuh Bisnis

CNN Indonesia | Kamis, 04/07/2019 18:45 WIB
Tony Fernandes soal Tiket Pesawat: Regulasi Membunuh Bisnis CEO Grup AirAsia Tony Fernandes. (REUTERS/Issei Kato).
Jakarta, CNN Indonesia -- CEO Grup AirAsia Tony Fernandes menilai pemerintah Indonesia seharusnya tak perlu mengatur harga tiket pesawat. Pasalnya, kompetisi yang sehat akan membuat maskapai dengan sendirinya memutar otak agar bisa menawarkan tarif terbaik bagi konsumen.

Pada awal pekan ini, pemerintah mengumumkan rencana pemberlakuan diskon tarif sebesar 50 persen dari tarif batas atas (TBA) untuk penerbangan maskapai berbiaya murah (low cost carrier/LCC).

Rencananya, diskon tarif itu akan diberlakukan pada penerbangan dengan jadwal pukul 10.00 hingga 14.00 pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu.


"Biarkan konsumen yang memutuskan. Lihat Gojek, Tokopedia, tidak ada yang mengatur mereka karena itu bisnisnya tumbuh pesat. Regulasi membunuh bisnis," ujar Tony dalam acara temu pembaca buku 'Flying High' di Jakarta, Kamis (4/7).


Menurut Tony, pemerintah sebaiknya tidak perlu terlalu berlebihan mengatur bisnis penerbangan. Biarkan maskapai memutuskan tarifnya sendiri.

"Jika tarif mereka terlalu tinggi tidak ada yang mau terbang dengan mereka. Jika mereka tidak aman, tidak ada yang akan terbang dengan mereka," jelasnya.

Tony tak ingin berkomentar mengenai strategi maskapai lain. Namun, ia meyakini bahwa sudah menjadi tugas AirAsia untuk bisa menawarkan harga tiket yang terjangkau sehingga bisa mengangkut lebih banyak penumpang.

Baginya, menawarkan penerbangan dengan harga yang terjangkau sudah menjadi identitas AirAsia dan Tony tak ingin kehilangan ciri khas itu.


"Kami selalu berusaha untuk menurunkan tarif tiket pesawat, bukan menaikkannya," ujarnya.

Karena itu, AirAsia mencari cara agar perusahaan bisa mempertahankan harga tiket murah sembari menjaga kesehatan keuangan perusahaan. Cara yang digunakan adalah mencari sumber pendapatan dari divisi bisnis lain, seperti penjualan makanan di dalam pesawat, kerja sama hotel, dan penawaran asuransi perjalanan.

'Saya Benci Kartel'

Tony mengaku menyukai kompetisi dan membenci jika ada kartel di industri penerbangan. Saat Group Lion Air masuk ke pasar Malaysia dengan bendera Malindo, Tony menyambutnya. Bahkan, ia mengaku mengatakan kepada stafnya jika Lion lebih baik dari mereka, maka AirAsia pantas ditendang. Ia pun beberapa kali menyuarakan keberatan atas monopoli bandara di Malaysia.

"Saya tidak tahu jika terjadi kartel (di Indonesia) tetapi yang saya tahu saya benci kartel, pro kompetisi, dan pro konsumen," ujarnya.

Tony melihat peluang bisnis penerbangan yang bagus di Indonesia. Meski bencana alam menjadi tantangan terbesar, Indonesia merupakan negara yang indah sehingga mampu mengundang masyarakat dunia untuk datang.


Hal itu menjadi salah satu alasan Air Asia terus mempromosikan penerbangan ke Lombok, meski beberapa waktu lalu terkena bencana alam. Terlebih, penduduk Indonesia sangat tangguh dan mampu bangkit dengan cepat.

"Setiap kali saya berpikir Bali tidak akan pulih, Bali pulih," ujarnya.

Secara terpisah, Direktur Utama PT Indonesia AirAsia Dendy Kurniawan mengungkapkan pihaknya telah diajak pemerintah untuk membahas rencana pemberlakuan tarif diskon itu. Menurut Dendy, pemberlakuan tarif diskon itu tak masalah bagi perusahaan.

"Yang lain diminta untuk kasih diskon 50 persen kami rata-rata sudah di bawah, 38 persen dari TBA. Jadi, tanpa diminta pun kami sudah murah," ujarnya.
(sfr/lav)