Perluas Pasar, Indonesian Tobacco akan Gandeng India

CNN Indonesia | Jumat, 05/07/2019 05:07 WIB
Perluas Pasar, Indonesian Tobacco akan Gandeng India PT Indonesian Tobacco Tbk akan bekerja sama dengan perusahaan asal India dan China demi memperbesar pasarnya di luar negeri. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) menyatakan akan menggandeng perusahaan asal India dan China untuk memperluas pasarnya di luar negeri. Saat ini, perusahaan tengah menyeleksi sejumlah perusahaan yang dianggap tepat untuk diajak bekerja sama.

Direktur Utama Indonesian Tobacco Djonny Saksono mengatakan manajemen biasanya menempuh waktu lama dalam melakukan proses kerja sama dengan perusahaan lain. Untuk itu, kerja sama tersebut dimasukkan ke dalam rencana jangka panjang perusahaan.

"Ke depannya kami akan bekerja sama dengan perusahaan India dan China, untuk jangka waktu tidak bisa langsung bulan depan. Ini rencana jangka panjang. Kami hati-hati dalam menyeleksi mitra, karena butuh kerja sama yang sehat," ungkap Djonny, Kamis (4/7).


Ia yakin bila rencana kerja sama terealisasi, pasar ekspor perusahaan akan bertambah. Sejauh ini, produksi Indonesian Tobacco baru diekspor ke Singapura, Malaysia, dan Jepang.


Ini artinya, perusahaan juga menjalin kerja sama dengan perusahaan di tiga negara tersebut. Sebab, Djonny mengaku tak bisa hanya menjual lepas produknya ke suatu negara tanpa ada yang mendistribusikannya dengan rapi.

"Jadi kami selalu kerja sama dengan perusahaan di sektor yang sama, tidak bisa jual lepas. Soalnya ini harus benar-benar dirawat," terang dia.

Indonesian Tobacco adalah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur tembakau iris. Dengan kata lain, perusahaan yang diajaknya berkolaborasi juga berada di sektor tembakau.

Kendati cukup semangat memperluas pasar di luar negeri, Djonny mengatakan sumber pendapatan utama perusahaan sejauh ini masih berasal dari penjualan di Indonesia. Ia merinci penjualan di dalam negeri mencapai 95 persen, sedangkan dari ekspor hanya 5 persen.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, Djonny menyatakan perusahaan menargetkan dapat meraup laba bersih sebesar Rp12 miliar tahun ini. Jika target tersebut tercapai, keuntungan perusahaan naik sekitar 45 persen dari posisi 2018 lalu yang sebesar Rp824 miliar.

Peningkatan laba bersih tersebut, sambungnya, akan ditopang dari peningkatan produksi tembakau menjadi 2.500 ton. Ia menyebut realisasi produksi hingga semester I 2019 sebanyak 1.100 ton tembakau.

Sebagai informasi, perusahaan baru saja mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini. Dari aksi korporasi tersebut, Indonesian Tobacco meraup dana segar sebesar Rp60 miliar.

Djonny mengatakan dana itu akan digunakan untuk menambah stok bahan baku berupa daun tembakau guna meningkatkan produksi. Selain itu, manajemen akan berupaya menambah pasar di dalam negeri.

"Saat ini 70 persen-80 persen di Pulau Jawa sisanya di luar Pulau Jawa. Pulau Jawa kan padat, banyak daerah yang bisa digarap," pungkas dia.

(aud/agt)